Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lontar Widhisastra Tapini Ungkap Sasana Serati Banten

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 31 Mei 2022 | 18:29 WIB
UPACARA: Prosesi upacara yadnya dengan melibatkan tukang banten. I Putu Mardika/Bali Express.
UPACARA: Prosesi upacara yadnya dengan melibatkan tukang banten. I Putu Mardika/Bali Express.

Lontar Widhisastra Tapini menjadi salah satu pedoman bagi tukang banten atau tapini dalam menjalankan tugasnya. Di dalam lontar ini memuat etika seorang tukang banten demi terciptanya yadnya yang lebih berkualitas.


SINGARAJA, BALI EXPRESS - Serati banten Jro Ketut Utara mengatakan, menjadi seorang tukang banten mestinya berpedoman dengan lontar. Seperti Lontar Yadnya Prakerti maupun Lontar Widhisastra Tapini.

Menurutnya, Lontar Widhisastra Tapini merupakan lontar yang memuat tata cara pelaksanaan yadnya. “Tata cara pelaksanaan yadnya sangatlah penting bagi pelaksana yadnya. Bukan saja pelaksana, namun juga kepada para brahmana yang memiliki tugas untuk memimpin yadnya,” jelasnya.

Seorang serati banten harus memahami etika dalam pembuatan banten. Karena membuat sesuatu yang suci tentu harus dilakukan dengan tingkah laku yang penuh dengan kesucian pula. Dengan jenis upacara yang banyak, maka etika ini sangat layak diketahui oleh masyarakat luas demi terciptanya yadnya yang lebih berkualitas.

“Lontar Widhisastra Tapini bisa dikatakan sebagai warisan budaya membahas cara-cara untuk melaksanakan yadnya agar saat dipersembahkan dapat mendatangkan kebaikan bagi seluruh umat manusia beserta juga lingkungan maupun binatang,” paparnya.

Dalam Lontar Widhisastra mengajarkan kepada umat khususnya tukang banten dalam membuat banten hendaknya selalu didasari dengan ketulusan hati, dengan perbuatan, perkataan, dan pikiran yang baik. Seseorang yang membuat banten tidak boleh melebih-lebihi atau mengurangi banten dengan sesuka hati.

“Membuat banten harus berpedoman pada sastra yang ada atau mengikuti petunjuk dari pandita atau sulinggih,” ungkapnya.

Etika seorang pandita juga dijelaskan dalam Lontar Widhisastra Tapini. Pandita yang patut digugu adalah pandita yang bersifat putus. Artinya seorang pandita yang mampu melepaskan diri dari ikatan keduniawian.

Seorang pandita hendaklah menjadi guru yang baik bagi umatnya, karena jika ilmu yang diturunkan gurunya baik, maka akan baik pula yang akan dilaksanakan oleh muridnya. Begitu pula halnya dalam hubungan seorang pandita dengan umatnya.

Tukang banten hendaknya berguru kepada pandita agar dalam membuat banten tidak mengalami kesalahan. Agar dapat dituntun berdasarkan sastra-sastra yang ada.

Lontar Widhisastra Tapini menyebutkan bahwa manusia hendaknya melaksanakan yadnya sebagai makhluk yang utama. “Manusia yang mampu membantu makhluk lain agar dapat menuju surga loka,” katanya.

Dipastikan bahwa Lontar Widhisastra Tapini sebagai upaya mempertahankan etika dan mengembangkan kepribadian dalam beryadnya. Lontar itu juga menjelaskan bahwa menjadi seorang tapini haruslah melalui upacara penyucian diri terlebih dahulu. “Agar kotoran yang ada dalam diri seorang sarati banten dapat dilebur. Jika tapini tidak melakukan penyucian akan berdampak buruk yaitu terkutuklah banten yang dipersembahkan dan akan berakibat tidak baik pula terhadap orang yang bersangkutan,” katanya lagi.

“Jika semua aturan telah dilaksanakan maka terjadilah kedamaian. Dalam hal ini seorang tapini yang akan menjalankan tugasnya semestinya menjalankan penyucian diri agar meningkatkan spiritualnya,” jelasnya.

 
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #Sasana Serati Banten #balinese #Lontar Widhisastra Tapini #hindu #pura #budaya