Arkeolog Gusti Ngurah Tara Wiguna tak menampik hal tersebut. Ia pernah melakukan penelitian pada tahun 2019 silam di sejumlah wilayah di Kabupaten Buleleng. Seperti di Kecamatan Kubutambahan, Sawan dan Tejakula.
Dikatakan Tara Wiguna, nama-nama raja yang disebutkan pun berbagai macam. Diantaranya Ugrasena, Janasadhu Warmadewa, Wijaya Mahadewi, Ajma Dewi, Dhammodayana Warmadewa, Marakata, Anak Wungsu, Sakalendu Kirana, Suradhipa, Raga Jaya, Jayapangus, Adidewalancana, dan Paduka Bhaṭṭara Sri Parameswara.
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Bali Kuno dan Jawa Kuno. “Bahasa Bali Kuno digunakan terhadap prasasti-prasasti periode abad IX Masehi hingga awal abad X Masehi, sedangkan bahasa Jawa Kuno digunakan dalam prasasti sejak akhir abad X Masehi,” jelasnya.
Beberapa prasasti tembaga yang menjadi data penelitian ada yang sudah berpindah lokasi penyimpanannya. Prasasti yang sudah berpindah tersebut ada yang bisa dilacak keberadaannya, dan ada yang belum diketahui keberadaannya.
Ada sejumlah nama desa di Buleleng yang tercantum di dalam prasasti dan masih bisa ditelusuri penamaannya hingga kini. Seperti Desa Subaya (Sabhaya; Prasasti Tejakula), Desa Ularan (Para Mantring Ularan; Prasasti Gobleg Pura Batur C, Tamblingan Pura Endek C; Banyuseri B). Desa Tinggarsari dan Kedis (Talimanuk; Prasasti Kerobokan), Desa Banyuseri (Banyuseri; Prasasti Banyuseri A, B, C, dan D), Desa Pedawa (Culuk; Prasasti Banyuseri D), Desa Cempaga (Capaga; Prasasti Banyuseri A dan D).
Kemudian Desa Sidatapa (Sidatapa; Prasasti Banyuseri A dan D), Desa Bebetin (Banwa Bharu; Prasasti Bebetin AI, AII, dan AIII), Desa Bungkulan (Bungkulan; Prasasti Julah=Sembiran AII). Desa Pakisan (Pakwan; Prasasti Kelandis), Desa Bulian (Bulihan; Prasasti Bulian B).
Selanjutnya Desa Depeha (Air Tabar dan Indrapura; Kelompok Prasasti Depeha A dan B) Desa Bila (Bila; Prasasti Bila I dan II) 14. Desa Bengkala (Bangkala; Prasasti Bengkala, Kelandis) Desa Julah (Julah; Kelompok Prasasti Julah=Sembiran) dan Desa Bondalem (Buhun Dalem; Prasasti Julah = Sembiran AII).
Di dalam prasasti itu terungkap empat permukiman pada masa Bali Kuno di Bali Utara mengikuti daerah aliran sungai, terutama di daerah pedalaman atau pegunungan sampai ke dataran. Sedangkan permukiman yang ada di pesisir umumnya mengikuti garis pantai.
“Memang pertimbangan pemilihan permukiman di sepanjang tepi sungai dan garis pantai adalah berhubungan dengan ketersedian air sebagai sumber kehidupan dan potensi besar sebagai penunjang ketersediaan pangan,” paparnya.
Permukiman pada masa Bali Kuno yang tersebar di Bali utara berdasarkan isi prasasti-prasasti Bali Kuno abad IX-XIV Masehi. Seperti permukiman yang terletak di daerah pesisir utara, yakni banwa bharu, karaman i julah, karaman i indrapura, karaman i buwundaḷm, dan karaman i hiliran.
Permukiman yang terletak di daerah dataran rendah, seperti Ularan (para mantring ularan), Capaga, Sidatapa, karaman i bangkala, karaman i bulihan, dan karaman i bila. Permukiman yang terletak di tepi atau sekitar Danau Tamblingan dan Bratan, yakni karaman i tamblingan, dan karaman i buyan. Permukiman di bukit-bukit atau dataran tinggi, yaitu karaman i pakwan dan karaman i sabhaya, karaman iŋ banusri, dan culuk (ida di culuk).
Karakteristik Permukiman
di Bali, Prasasti Kuno, Banwa Adalah Desa, Minanga Artinya Sungai, Balinese, bali, hindu, ritual, adat, budaya, pura, hindu, Arkeolog, Gusti Ngurah Tara Wiguna,
Editor : I Komang Gede Doktrinaya