Jro Panca melalui kanal Youtubenya Taksu Poleng memaparkan, dalam Lontar Dharma Pamulih Buron dijelaskan bagaimana cara memuliakan binatang. Dalam konsep agama Hindu, kita mengenal Tri Hita Karana, salah satunya menjaga hubungan baik dengan alam dan semesta. “Agama Hindu mengajarkan kita untuk memuliakan atau memanusiakan tumbuhan dan binatang, bukan membinatangkan manusia. Ini konsep yang salah dan dilarang dalam agama Hindu,” ungapnya.
Lebih lanjut, Jro Panca mengatakan, di dalam Lontar Dharma Pamulih Buron memang tidak membahas soal ngaben atau kremasi pada hewan, tetapi dalam lontar dibahas cara mengupacarai hewan yang telah mati agar Janggama (atman) binatang tersebut tidak menjadi binatang kembali. “Kita mendoakan binatang tersebut agar pada kehidupan selanjutnya binatang tersebut naik tingkatan,” jelasnya.
Meski disebut kremasi, tetapi upakara yang digunakan tidaklah sama dengan kremasi pada manusia. Terpenting adalah hewan yang mati dimandikan, dan dikafani kemudian didoakan. Banten yang digunakan pun tergantung dari kemampuan masing-masing yang memelihara hewan tersebut. “Intinya sekali ada daksina untuk memuliakan dan menghormati agar ketika lahir kembali naik tingkatan,” ungkapnya.
Setelah didoakan, hewan yang mati dapat dibakar ataupun dikubur. Jro Panca menjelaskan bahwa bukan hal yang menyimpang dalam melakukan kremasi pada hewan, selama prosesnya tidak berlebihan. “Ya tidak apa-apa, bukan juga pelecehan. Selama tidak dilebih-lebihkan, misalnya menggunakan pepaga atau upacaranya dipuput Ratu Peranda,” pungkasnya. Editor : Nyoman Suarna