Lebih lanjut, Jro Panca menjelaskan, paica ada yang bersifat kekal dan ada yang tidak. Paica yang dipasupati oleh dukun atau orang pintar, jika disalahgunakan, dapat menyerang si pemakai. Akan tetapi paica yang didapat dari leluhur, jika disalahgunakan, paica tersebut akan menghilang. “Yang hilang bukan bendanya, melainkan energinya,” ungkap Jro Panca.
Hilangnya energi paica yang diperoleh dari leluhur karena si pemakai saat ini tidak tahu cara yang benar dalam merawat paica tersebut. “Dulu kakek kita yang pakai paica itu sangat sakti, tetapi kita yang tidak tahu sesajennya apa, cara berkomunikasi dengan yang bersemayam di dalamnya, maka lama kelamaaan kekuatannya akan menghilang,” paparnya.
Paica bisa diperoleh dengan tiga cara, di antaranya dengan meditasi. Ada orang-orang yang ketika bersembahyang dengan tba-tiba ada benda jatuh atau menemukan secara gaib. Paica juga dapat diperoleh dengan cara keturunan. Paica ini diperoleh dengan cara meneruskan pusaka yang dimiliki oleh leluhur. “Paica yang diperoleh dari leluhur ini juga dapat dibagi menjadi dua, ada yang hanya meneruskan pusaka leluhur dan ada yang tiba-tiba paica itu datang karena diminta oleh leluhur,” ungkapnya.
Cara ketiga untuk memperoleh paica dengan proses pasupati yang dibantu oleh orang pintar. “Misalnya uang kepeng yang ada gambar, kemudian dipasupati, maka akan hidup dan memiliki energy. Ini juga bisa dikatakan paica,” ungkapnya.
Dikatakan Jro Panca, untuk membedakan apakah benda itu paica atau tidak, caranya dengan memohon kepada yang bersemayam dalam benda tersebut untuk dihubungkan kepada Tuhan. “Kita memohon agar doa kita meminta kesembuhan dihubungkan kepada Tuhan, dengan cara nunas wasuhannya. Jika sembuh, maka benda itu adalah paica,” jelasnya.
Selanjutnya cara yang lebih ekstrim, dengan meletakkan paica itu di kaki. Akan tetapi hal ini dapat memicu kemarahan khodam paica itu. Namun cara yang paling mudah adalah dengan memakai bunga. Bunga dioleskan ke paica, kemudian mohon agar khodam yang bersesemayam di dalamnya datang ke dalam mimpi. Kemudian bunga itu dipakai di telinga dan dipakai tidur. “Ini cara-cara yang dapat dilakukan oleh orang awam. Kalau orang sakti, pasti bisa berkomunikasi secara langsung,” pungkasnya. Editor : Nyoman Suarna