Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kosmologi Lontar Anggastya Prana dari Cipta hingga Aksara di Tubuh

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 1 Juli 2022 | 16:57 WIB
PERKAWINAN: Upacara perkawinan sebagai bagian dari konsep stiti dalam Lontar Anggastya Prana. I Putu Mardika/Bali Express
PERKAWINAN: Upacara perkawinan sebagai bagian dari konsep stiti dalam Lontar Anggastya Prana. I Putu Mardika/Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS -Konsep kosmologi Hindu tak hanya dikenal dalam bhuana agung atau alam semesta saja. Tetapi juga dalam kosmologi bhuwana alit. Penciptaan manusia ini diulas dalam Lontar Anggastya Prana.

Penekun Lontar, Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta mengatakan, Lontar Anggastya Prana merupakan salah satu lontar yang bersifat Siwaistik. Dimana, menempatkan Dewa Siwa memiliki kedudukan tertinggi dan merupakan asal mula dari penciptaan manusia (bhuwana alit) yang disebut dengan Sang Hyang Siwatma.

Lontar ini memaparkan khusus tentang kosmologi, yakni penciptaan, pemeliharaan dan peleburan dalam lingkup kecil, khususnya mengenai proses kelahiran manusia (bhuwana alit). Hak ini sesuai dengan pemahaman masyarakat Bali, yaitu dengan menggunakan istilah-istilah keberagaman lokal yang ada di Bali.

“Lontar Anggastya Prana dalam menjabarkan ajaran kosmologinya menggunakan nama-nama Dewa lokal yang jarang, bahkan tidak ditemukan dalam kitab suci Weda,” jelasnya, belum lama ini.

Selain menjelaskan proses penciptaan manusia, Lontar Anggastya Prana juga menjelaskan tentang penempatan aksara-aksara suci yang terdapat dalam tubuh manusia. Lengkap beserta Ista Dewata yang menguasainya, sebagai ajaran atau tutur untuk mencapai kelepasan atau kamoksan.

Selanjutnya dijelaskan pula tentang huruf-huruf aksara suci dari Dasa Bayu menjadi Dasa Aksara. Dari Dasa Aksara menjadi Panca Aksara. Dari Panca Aksara menjadi Tri Aksara, dari Tri Aksara menjadi Dwiaksara (Rwa Bhineda) dan dari Dwiaksara menjadi Eka Aksara.

Di dalam lontar ini dipaparkan terkait upacara atau upakara yang digunakan semenjak masih dalam kandungan sampai janin itu lahir. “Wejangan-wejangan inilah mengandung konsep-konsep yang rumit dan makna yang luas dan mendalam,” sebutnya.

Menurutnya, lahir sebagai manusia merupakan suatu anugerah yang utama. Sehingga sangat beruntung sebenarnya telah dilahirkan sebagai manusia.

Kelahiran manusia sebagai bagian dari bhuana alit mengalami suatu proses yang cukup panjang. Proses awal kelahiran manusia (seorang bayi) dalam Lontar Anggastya Prana dimulai dengan bagaimana proses pembuahan hingga terbentuknya telur Sang Hyang Antigajati.

“Ini merupakan tahapan awal sebelum lahirnya seorang manusia/bayi. Dapat dikatakan sebagai proses pembuahan atau dalam bahasa ilmiah disebut dengan proses fertilisasi,” ungkapnya.

Pembentukan Sang Pratimajati merupakan kelanjutan dari suatu proses kelahiran seorang bayi. Terbentuknya Sang Pratimajati dalam Lontar Anggastyapm Prana dijelaskan merupakan anugerah dari para dewata.

Sang Pratimajati tiada lain adalah janin itu sendiri, yaitu embrio atau Sang Hyang Antigajati setelah berumur 2 bulan kandungan. “Perkembangan Pratimajati (embrio) selalu terkait dengan Tuhan dalam hal ini sebagai Dewata, setiap proses perkembangan janin diungkapkan sebagai anugerah atau kehendak Tuhan,” katanya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #balinese #Penekun lontar #adat #Aksara di Tubuh #Kosmologi Lontar Anggastya Prana #hindu #Proses Penciptaan #Kanda Pat Catur Sanak #tradisi #Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta