Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tantra dalam Aji Kawisesan, Bhuta Sudhi Ada Ritual di Dapur

I Komang Gede Doktrinaya • Selasa, 5 Juli 2022 | 23:55 WIB
TANTRA: Rerajahan Dewi Durga sebagai bagian dari Ista Dewata penekun Tantra  Ist
TANTRA: Rerajahan Dewi Durga sebagai bagian dari Ista Dewata penekun Tantra Ist
BULELENG, BALI EXPRESS -Ilmu pangiwa dan pangleakan adalah warisan yang adiluhung. Konsep kawisesan di Bali, terutama aji pangiwa dan pangleakan merupakan bagian dari praktik Tantra yang sudah berkembang di Nusantara.

Penekun  Lontar Ida Bagus Made Baskara, dari Griya Gunung Kawi Manuaba, Tampaksiring, Gianyar mengatakan, Tantra sudah berkembang di Nusantara khususnya Budha yang mengikuti Tantra. Termasuk Hindu Sanatana Dharma yang berkembang di Nusantara juga memiliki ajaran Tantra.

“Ketika Siwa Tantra dan Budha Tantra ini berkembang, inilah yang menjadi rujukan kawisesan di Bali. Khususnya dharmaning pangiwa yang diterapkan dalam ajaran pangeleakan,” katanya.

Ida Bagus Baskara menjelaskan banyak lontar yang mengulas tentang aji pangleakan. Hanya saja tidak runut. Pada teks itu seolah tumpang tindih. Maksudnya, satu teks bisa menjelaskan bagian yang lain, sedangkan teks yang lainnya mempertegas.

Ida Bagus Baskara berasumsi ini adalah salah satu metode yang diterapkan oleh  leluhur agar aji pengiwa pangleakan tidak dipelajari secara sembarangan. Perlu tuntunan guru dan harus berhati-hati saat belajar.

Maka dari itu, untuk memahaminya, perlu teks pembanding. Salah satunya yang membahas detail tentang Tantra dengan 15 aspeknya adalah Kula Arnawa Tantra.

Kula Arnawa Tantra adalah salah satu kitab yang banyak mengulas metode praktik Tantrayana. Bahkan, jika dibandingkan dengan praktik kawisesan di Bali tentu sangat erat kaitannya.

Ida Bagus Baskara merinci 15 praktik Tantra itu diantaranya Bhuta Sudi. Bhuta ini artinya unsur, sedangkan sudi adalah sudha atau penyucian. Pada praktik Tantrayana, unsur yang ada di tubuh sebelum diolah sedemikian rupa patut dibersihkan.

Di Bali, ajaran Bhuta Sudhi ini diterapkan pada praktik pangiwa dan pangleakan. Pada Lontar Aji Pangiwa disebutkan ritual yang disebut nunas panugran Bhagawan Mercukunda. Ini dilakukan di dapur.  Kenapa di dapur?

Dikatakannya, pada praktik pangiwa pangleakan itu yang dilatih adalah unsur api. Pada teks Aji Pengiwa Pangleakan, ritual pembersihan pangiwa identik dengan Bhuta Sudhi, dimana pada orang yang membersihkan unsur api yang ada di dalam tubuhnya sebelum diolah.

“Dapur adalah  sumber api yang paling dekat di luar tubuh manusia. Sehingga pembersihan aji pangiwa pangleakan bertujuan nunas panugrahan dari Bhagawan Mercukunda. Tujuannya membersihkan unsur api di tubuh, karena mengolah unsur api,” ungkapnya.

Kedua, ada Purusa Caharana. Dalam teks Kula Arnawa Tantra, ini adalah doa wajib pada hari tertentu untuk memperkuat praktik Tantra. Di Bali Purusa Caharana juga diterapkan dalam pangiwa pangleakan.

“Ada mantra wajib yang disebutkan saat Purnama, Tilem, dan kajeng kliwon atau jelang sandhikala. Ada mantra yang diulang. Seperti layaknya japa. Karena penting juga sebagai ajaran Tantra,” paparnya.

Ketiga adalah Mantra. Berbeda dengan Purusa Caharana. Mantra yang dimaksudkan adalah ucapan yang menyertai praktik Tantra secara keseluruhan. Di Bali, orang yang belajar pangiwa pangleakan itu harus ada ucapan mantra. Terutama pada saat memuja Dewi Durga sebagai sesuhunan, sehingga ada istilah Durga Astawa

Keempat adalah Mandala. Dalam praktik Tantra secara universal dikenal dengan Mandala atau simbol yang berhubungan dengan tempat, wilayah di mana praktik Tantra dijalankan.

Mandala ini sebagai penanda praktik Tantra. Di Bali pada praktik pangiwa pangleakan mandala sangat penting. Dia akan memagari tempat dimana akan praktik agar tidak ada yang mengganggu. “Ada istilah ilmu panyengker, sesirep. Tujuannya untuk mempersiapkan mandala untuk praktik Tantra,” sebutnya.

Kelima adalah Nyasa yang dalam Kula Arnawa Tantra untuk menempatkan berbagai aspek kedewaan, unsur alam yang ada pada tubuh praktisi Tantra. Di Bali, pada saat belajar pangiwa pangleakan, ada beberapa dewa-dewi yang ditempatkan dalam tubuh.

Ada Dewata Nawa Sanga, unsur alam yang ditempatkan di tubuh unsur air, api.  “Ketika ada ajaran tanpa proses Nyasa, maka dalam Kula Arnawa Tantra disebut bukan sebagai Tantra. Jadi sangat tantris sekali, karena sangat detail,” paparnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #Penekun lontar #adat #Bhuta Sudhi #hindu #pura #Ada Ritual di Dapur #Aji Pangleakan #Ida Bagus Made Baskara #Aji Kawisesan #Tantra