Tari Baris Jangkang di Desa Budaga wajib pentas saat upacara Nangluk Merana pada tilem kaenem di desa setempat. Tari wali ini juga dipentaskan saat pujawali di Pura Puseh Bale Agung Desa Budaga.
Menurut Panyarikan Desa Adat Budaga Wayan Dwijaksara, Tari Baris Jangkang di Budaga adalah simbol penolak bala, sehingga warga percaya tari tersebut dapat memberikan aura positif bagi krama desa. Tatkala wabah terjadi, tari ini ditarikan mengelilingi wilayah desa guna menetralkan energi negatif.
Selain ditarikan saat upacara Nangluk Merana tilem kaenem dan pujawali, Baris Jangkang juga sering dipentaskan pada upacara di Pura Agung Besakih. Seperti pada upacara Panca Wali Krama setiap 10 tahun sekali. “Jadi warga percaya tarian ini memiliki aura magis cukup kuat dan wajib ditarikan saat upacara di desa,” kata Dwijaksara.
Tari Baris Jangkang lahir pada zaman Kerajaan Gelgel periode akhir. Tepatnya saat pasukan ekspedisi ke Nusa Penida untuk mengalahkan Dalem Bungkut atas permintaan Ki Bendesa Nusa. Saat itu diketahui ada Tari Baris Jangkang.
Seniman puri kala itu diperintah untuk menciptakan Baris Jangkang yang mirip Nusa Penida untuk dikembangkan di Klungkung daratan. Berdasarkan catatan berbagai sumber, tarian ini berbeda dengan Baris Jangkang di Nusa Penida dilihat dari adanya karakter Demang dan Temenggung sebagai tokoh kakak beradik pemimpin pasukan Baris Jangkang.
Gerakannya yang tegas menyesuaikan dari ketukan gong sebagai tempo. Ada juga percakapan singkat dalam tarian antara dua karakter yang disimbolkan sebagai kakak beradik. Ini yang menjadi pembeda dengan tarian Baris Jangkang di Nusa Penida.
Penari juga memakai mako atau tembakau pada bibir. Ini sebagai media penolak bala atau diyakini berfungsi penolak wabah. Ada sembilan penari yang memakai tombak dengan ujung berbeda-beda. Simbolnya senjata Dewata Nawa Sanga sesuai sembilan arah mata angin.