Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Obat ODGJ Berdasarkan Ciri-cirinya Mengacu Lontar Usada Buduh

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 26 September 2022 | 18:27 WIB
ODGJ: Satpol PP dan pihak kepolisian serta masyarakat mengamankan ODGJ di Tabanan belum lama ini. Ist
ODGJ: Satpol PP dan pihak kepolisian serta masyarakat mengamankan ODGJ di Tabanan belum lama ini. Ist
BULELENG, BALI EXPRESS - Belakangan ini beberapa kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) membuat onar. Bahkan, ada yang menghilangkan nyawa ibu tirinya di Gianyar. Sejatinya, pengobatan terhadap ODGJ ini tak hanya bisa dilakukan secara medis, lewat tradisional pun bisa.

Pengobatan ODGJ secara tradisional diulas dalam Lontar Usada Buduh. Seperti nama lontarnya, lontar ini khusus untuk penyakit buduh (gangguan jiwa). Hal penting diperhatikan sebelum mengobati ODGJ sebagaimana tertuang dalam lontar itu adalah mencermati dulu ciri-ciri gangguan jiwa tersebut.

Mengacu Lontar Buduh, penekun usada Bali Gede Sutana menyampaikan bahwa beda ciri-ciri, beda pula penanganan maupun obatnya. Ia menyebut ODGJ dengan ciri-ciri suka bernyanyi dan sering menyebut-nyebut nama dewa misalnya, sarana pengobatannya berupa kunir yang warnanya kemerah-merahan, ketumbar, garam bercampur arang. Kemudian diolah menjadi jamu.

“Dalam Lontar Usada Buduh disebutkan agar obat tersebut diteteskan ke hidung dan mata. Setelah itu kembali diminumkan air kelapa muda dari jenis kelapa mulung,” ungkapnya.

Bila orang gangguan jiwa dengan ciri-ciri sering menangis,  siang maupun malam sambil menyebut-nyebut nama seseorang, maka sarananya pengobatan berupa putik kelapa mulung dan akar kelapanya yang masih muda, dua biji bawang merah, dua biji adas, ketan hitam. Semuanya dicampur menjadi minuman, berikan kepada yang gangguan jiwa.

Selanjutnya, orang buduh (gila) dengan ciri-ciri suka pergi kesana-kemari. Sakit ini namanya sakit edan kabinteha. Sarana pengobatannya berupa 25 biji ketumbar, asam tanek, gula enau, santan kane (kental), dicampur. Obat ini diberikan dengan cara diminum. Sebagai bedaknya setangkai kelor munggi, setangkai kesawi, pala, tri ketuka terdiri dari 3 unsur bawang merah, bawang putih, jerangan dan air cuka.

“Mantra obat dan borehnya : Ong asta astu ya nama swaha, ala ala ilili swaha, sarwa bhuta wistaya, sarwa guna wini swaha, ah astu ya astu (sebanyak tiga kali),” kata Sutana.

Contoh lainnya adalah orang gangguan jiwa dengan ciri suka tertawa dan melucu, maka sarana pengobatannya berupa paria lempuyang, ketumbar, tri ketuka, air cuka, dicampur dan minumkan. Sebagai borehnya (bedak), berupa kelor munggi dicampur dengan intaran bersama kulitnya, sembilan pucuk daun liligundi. Ditambah ramuan-ramuan umbi gadung, air cuka dan tri ketuka. Mantranya : Ong edan edan anama swaha waras.

Jika ODGJ dengan ciri-ciri suka berkata aneh dan suka turun, maka sarana pengobatannya adalah kelor munggi, kesawi, bawang adas, tri ketuka. Semuanya dicampur  dan diminum oleh si penderita. Selain itu, teteskan dari hidung sampai mata, dan mantranya : Ong hyang astu ala-ala ili ili sarwa brang grang wini swaha, waras.

Dalam lontar Usada Buduh, lanjut Sutana, juga disebutkan orang gangguan jiwa disertai penyakit epilepsi. Ini  beda lagi bahan obatnya. Yakni pacipaci atau sejenis perdu batangnya kering, daunnya lancip dan kasar beserta bunganya.

Saat memetik agar tidak menginjak bayangan, ditambah lagi kemiri, pala, jerangan, mungsi, semua dicampur untuk diminum. Ampasnya dipakai boreh. “Mantranya : Ong sang Depadaa angumbang ring saksi, luarakna banyu wus wasane si anu, mundurana kita den agelis, mundur kita wetan, kidul kulon lor ring tengah, metu ngambah ke baga purus,” sebutnya.

Di jalanan, kerap juga ditemukan orang dengan gangguan jiwa dengan ciri berbicara tidak karuan, sering mengambil barang yang tidak berguna. Dalam Usada Buduh, ada beberapa sarana yang digunakan untuk mengobatinya. Seperti merica putih diulek dengan air jeruk, remasan semut hitam. Air beningnya teteskan pada mata, telinga, dan hidung.

Setelah obat yang pertama diberikan, tambahkan lagi dengan obat tetes untuk hidung yang sarananya berupa dua biji bawang putih, dua butir merica putih, air dari gosokan kayu cendana dan air jeruk yang bening. Diamkan sejenak, kemudian air beningannya itu yang diteteskan pada hidung ODGJ.

Gangguan jiwa dengan ciri suka tidur dan tidak enak makan dan minum, sarana pengobatannya berupa tujuh helai daun sirih temu ros atau urat daun kiri dan kanan bertemu di tengah, tujuh butir merica, ditambah garam. Semua dicampur. Obat ini dimasukan ke dalam tubuh pasien dengan cara diminum. “Ampasnya bisa disemburkan ke seluruh tubuhnya,” kata dosen STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini.

Masih  berdasarkan Lontar Usada Buduh, gangguan jiwa dengan ciri suka meratap tidak karuan dan menangis siang dan malam, sarana pengobatannya yakni kelapa mulung, kemiri jetung (biji buahnya satu), kemiri biasa sama-sama sebiji, bawang, mungsi, ketumbar. Bahan-bahan ini dicampur dan teteskan di hidung, mata, dan telinga. Ampasnya dibalurkan ke seluruh badannya.

Kemudian ada juga bahan-bahan berupa temu ros, tiga butir ketumbar, tiga butir mungsi, tiga iris lengkuas. Semua dicampur dan teteskan pada hidung serta telinga.

Bagaimana kalau ODGJ galak? Menurut Sutana, sarana pengobatannya berupa daun sirih tua temu ros, tiga biji ketumbar dan tiga biji mungsi, tiga iris lengkuas. Teteskan pada hidung dan telinga. Ampasnya dibalurkan di badannya.

Gangguan jiwa dengan ciri suka mengulum sesuatu. Sarana pengobatan yakni minyak wangi, sulasih wangi, dan mungsi. Bahan-bahan itu dicampur lalu diteteskan pada hidung dan telinga.  Mantranya : Ong arah arah wayamanisa wagrana wiswaha.

Menurut Sutana, ada juga orang gangguan jiwa dengan ciri-ciri perutnya bengkak. Sarana pengobatannya adalah liligundi, kantawali, mungsi, pala dan air cuka. Semua bahannya direbus untuk diminum. Mantranya: Ong arah arah ya atutur tutur namah swaha.

Gangguan jiwa dengan ciri badan panas, sarana pengobatannya seleguri jantan betina, tapak liman gelagah ilalang, akar muda kasimbukan, kulit akar kendal, pulasari  jinten hitam, bawang adas, sepet-sepet, lapisan lender pohon kendal, daun dapdap tis, beligo arum segumpal dan beras merah.

“Semua bahan digilas dan dibuat tum kemudian dikukus sampai benar-benar masak. Setelah matang, tuangkan air tebu hitam yang telah dibakar. Beningannya dipakai menetesi telinga, hidung, dan mata dan untuk diminum. Ampasnya dipakai membedaki seluruh badannya,” ungkapnya.

Gangguan jiwa dengan ciri sering menari, maka sarana pengobatannya dause keeling berikut akarnya dan gula enau. Setelah dicampur, teteskan pada pasien dan usahakan agar mau diminum. Mantranya : Ong paramatma atma pariatma, sarwa graham wina sidham swaha, waras (3 kali).

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #balinese #Obati ODGJ Berdasarkan Ciri-cirinya #Lontar Usada Buduh #hindu #gila #penekun usada Bali Gede Sutana