Dosen Upakara UNHI Denpasar I Gusti Ayu Artati menjelaskan, banten byakala dihaturkan sebelum upacara inti, yang berfungsi sebagai sarana pembersihan lingkungan secara niskala sesuai konsep ajaran Tri Hita Karana. Selain itu, byakala juga sebagai pelengkap dalam tetandingan banten caru.
Cara mempersembahkannya, jika ngayab ke palinggih, banten ini dihaturkan ke bawah, dan pada manusia ngayab menuju pusar atau difokuskan pada areal kaki.
Bahan dasar dari banten byakala atau byakaon adalah dengan daun andong merah, slepan, dan sampian nagasarinya bisa menggunakan janur. Fungsinya sebagai simbol dari Dewa Brahma (merah).
Banten ini memiliki jenis yang beragam, berdasarkan unsur pendukungnya. Sebut saja banten byakaon yang merupakan salah satu dari banten byakala yang dimana unsur penyusun banten tersebut terdiri dari sebuah sidi, aledan sayut, berisi kulit peras pandan berduri, raka-raka sampian nagasari, pesucian, lis amuan-amuan.
Kemudian ada nasi matajuh, ceper berisi base tulak, takir berisi beras kuning, tempurung berisi nasi berwarna hitam, telur ayam mentah, kojong rangkat nasi kepel agung metancep bawang tabia, nasi metimpuh, sabet dari serabut kelapa, 3 lidi, penyeneng dan payuk pere.
Selain itu, ada pula banten byakala menyesuaikan dengan konsep desa kala patra. Bahkan, dikenal pula banten byakala agung. Banten ini tentu lebih kompleks karena terdapat beberapa sarana. Namun, yang pasti ada dalam banten byakala itu adalah alas berupa sidi, kulit sesayut, di atas kulit sesayut ditumpuk atau boleh juga ditempelkan aled peras yang dibuat dari daun pandan berduri atau disebut pandan wong. Termasuk pula lis byakala yang wajib ada.
Dijelaskan Artati, proses ngayabin ataupun ngetisin banten byakaon ke arah belakang disebabkan karena banten tersebut untuk sarana penyucian yang tujuannya menetralkan kekuatan negatif yang berasal dari tiga alam, sesuai dengan kandungan unsur dan sifat dasar persembahannya.
“Agar menjadi positif sehingga menciptakan keharmonisan. Proses ngayab bermakna sebagai penyucian Tri Kaya Parisudha, dan penyucian ketiga alam, alam bhur, bwah dan swah, sehingga menciptakan keseimbangan,” jelasnya.
Secara filosofis, banten byakala atau byakaon berasal dari kata baya artinya bahaya, kaon artinya buruk. Sehingga dengan menggunakan banten byakaon dapat menghilangkan hal-hal yang bersifat negatif.
Dihubungkan dengan perasaan seseorang, maka banten byakala dapat menetralkan hal-hal negatif yang dapat mengganggu pikiran sehingga menimbulkan perasaan yang tidak baik, misalnya perasaan kesal, marah, sehingga menciptakan sifat kedewataan. Penggunaan sarana sambuk atau sabut kelapa dalam banten byakaon tidak dapat dihindarkan.
Kalau yang menggunakan sarana sambuk (api takep) biasanya dipergunakan pada upacara manusa yadnya. Fungsinya sebagai upasaksi. Sedangkan jika jenis upacaranya dewa yadnya, tidak menggunakan sambuk.
Banten byakala kerap ditemukan menggunakan sarana aledan sayut dan aledan tajuh. Aledan sesayut bundar artinya simbol bulan dan bisa dimaknai sebagai proses kehidupan yang berputar ibarat roda.
Sedangkan aledan matajuh sebagai simbul matahari. Aledan ini memiliki empat sisi sebagai catur loka, arah mata angin, timur, selatan, barat, dan utara.
Penggunaan sidi pada banten itu dianggap penting karena secara simbolis dapat dimaknai untuk menyaring kotoran. “Kalau ibarat sidi, pasti bertujuan untuk menyaring yang kotor, kasar agar bisa menjadi halus,” ungkapnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya