Dosen Upakara UNHI Denpasar I Gusti Ayu Artati menyebutkan, pandan wong adalah sebuah analogi dari hidup manusia, di mana manusia kadangkala sulit (sakit), ada rintangan, halangan. Kemudian banten byakala sebagai penetral.
Pada banten byakala menggunakan 5 helai kulit peras dari pandan wong yang artinya simbol dari Panca Maha Bhuta.
Kemudian ada pula penggunaan sarana lis atau bebuu. Lis berasal dari kata bahasa Bali les artinya ciri atau wujud tertentu. Sedangkan mebuu artinya mabersih.
Wujud yang dimaksudkan dalam persembahan adalah perwujudan yang mengandung arti sesuai dengan Lontar Yadnya Prakerti, di mana banten disimbolkan sebagai sahananing banten pinaka raganta twi.
Ada simbol isi perut pada basang nguda, basang wayah, tipat pusuh, siku, ntud. Ada pula sahananing banten pinaka rupaning Ida Bhatara.
Lis, buu, padma dimaknai sebagai senjata Dewa Siwa. Lis senjata penggambaran dari senjata Dewata Nawa Sanga. Lis juga sebagai isi alam semesta. Sehingga ada simbol tumbuh-tumbuhan seperti linting, sritetel, jan, sesapi, lawangan, tangga menek, tangga tuwung, tipat tulud. “Jumlah lis dibuat sesuai dengan kebutuhan. Kalau lis alit bisa jumlahnya 27, 33 jenis, kalau lis agung besar sampai 45,” terangnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya