Bendesa Adat Padang Bulia Gusti Aji Nyoman Bisana menjelaskan, upacara ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali, tepatnya pada Sasih Kapat. Tidak lepas dari mata pencaharian warga setempat yang sebagian besar petani lahan basah maupun lahan kering. Para petani sangat bergantung pada alam atau tanah sawah, sehingga Ngusaba Desa Sarin Tahun sangat penting sejak zaman dahulu.
Awalnya, upacara ini dilaksanakan setiap 5 tahun. Namun karena terkendala air dan alat yang sederhana, hasil panen tidak mencukupi untuk melaksanakan upacara ini. Seiring berkembangnya teknologi dan hasil panen mulai meningkat, maka upacara Ngusaba Desa Sarin Tahun ditetapkan 2 tahun sekali.
Upacara berlangsung selama 6 hari. Seluruh masyarakat desa terlibat. Pria berusia 75 tahun ini menyebutkan, prosesi diawali dengan munggah ambu, selanjutnya krama istri mulai ngayah di Pura. Seperti membuat jejahitan, jajan sebagai sarana upakara.
Demikian pula krama dan ulun desa wajib menjalankan yasa kerti atau mabrata dengan harapan pelaksanaan upacara bisa berjalan lancar.
Yasa kerti itu berupa melaksanakan perilaku yang baik. Seperti mulat sarira yang mengutamakan etika dan susila. “Krama itu harus senantiasa mengedepankan perilaku yang baik, karena itu bagian dari susila. Sehingga tetap tertib dan acara berjalan lancar,” jelasnya.
Ada sejumlah sarana yang digunakan saat upacara berlangsung. Seperti babi hitam mulus, buah kelapa, pisang, bambu untuk dijadikan tiang penyangga taring, klakat, katikan, ayam, bebek untuk dijadikan banten suci.
“Jika persiapan sudah tuntas, kemudian dilanjutkan dengan merakit sanganan dan kebat. Makanya tukang banten sangat berperan penting dalam menyukseskan upacara ngusaba ini,” paparnya.
Kemudian prosesi dimulai dari Pura Dalem Purwa dan Pura Wana Ayu. Ini disebut dengan pabaktian desa, dan dilaksanakan di Balai Panjang. Ritual ini bertujuan untuk memohon kehadapan Ida Bhatara Sri dan Rambut Sedana agar diberikan kesuburan dan panen yang berlimpah.
Menariknya, ada prosesi mendak Bungan Desa. Bungan desa itu bukanlah para gadis. Melainkan bendesa, klian desa, wakil klian desa dan penyarikan. “Ini yang harus dipendak di Pura Pajenengan. Yang mendak itu krama desa diiringi rereongan. Pelaksananya pamucuk karya itu Jro Mangku, ngaturang puja pengastawa pemendak,” papar lagi.
Tanggung (ujung) kancut Bungan Desa dipegang oleh krama desa dengan posisi di belakang. Ia menceritakan, ada makna filosofis mengapa tanggun kancut itu dipegang. Karena Bungan Desa dianggap sebagai ulun desa, sehingga krama desa harus subakti. Editor : I Komang Gede Doktrinaya