Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mapepada Sucikan Hewan untuk Caru, Banten Sesayut Jadi Sarana Utama

I Komang Gede Doktrinaya • Jumat, 21 Oktober 2022 | 22:47 WIB
MAPEPADA : Hewan  saat Mapepada untuk dijadikan caru,  Kamis (20/2) pagi. I Putu Mardika/Bali Express.
MAPEPADA : Hewan  saat Mapepada untuk dijadikan caru, Kamis (20/2) pagi. I Putu Mardika/Bali Express.

Kepada siapa sesayut itu katur? "Kalau manut puja sesayut itu dihaturkan ke Sang Hyang Akasa dan ibu pertiwi. Kemudian ngayab banten tersebut ke Sangkan Paraning Dumadi atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa." Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kerthananda


BULELENG, BALI EXPRESS - Mapepada merupakan ritual yang wajib dilakukan, terutama dalam upacara tingkatan besar dan menggunakan wewalungan.

Prosesi ini sebagai bentuk penyucian terhadap hewan sebelum disembelih menjadi caru. Seperti yang terlihat pada areal kampus STAHN Mpu Kuturan dalam rangkaian Karya Agung Mamungkah/Wrespati Kalpa Utama dan Ngenteg Linggih yang sedianya dilaksanakan, Sabtu (22/10).

Photo
Photo


Hewan atau binatang yang akan digunakan sebagai caru, terlebih dulu disucikan dalam upacara Mapepada, Kamis (22/10) pagi. Upacara itu dilaksanakan di areal Pura Agung Mpu Kuturan, dipimpin Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kerthananda dari Griya Bubunan, Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, Buleleng.

Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group), prosesi Mapepada dimulai sekira pukul 08.00. Keluarga kampus terlibat dalam upacara ini. Hewan yang disucikan meliputi hewan berkaki empat, diantaranya kambing, asu (anjing) bang bungkem. Ada juga hewan berkaki dua, seperti ayam berbulu putih, biying dan hitam, angsa, itik berbulu sikep, itik wlang kalung. Nantinya olahan caru tersebut akan diletakkan sesuai dengan arah mata angin.

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa menuturkan, Mapepada tersurat di beberapa lontar.  Dalam lontar disebutkan bahwa ketika beburon atau hewan akan dijadikan dasar caru, perlu prosesi penyucian atau penyupatan ke sang atma dalam beburon.

“Ada kambing, anjing, dan beberapa hewan lain, penting dan perlu melaksanakan penyucian. Ketika hewan berkaki empat dijadikan caru, perlu melaksanakan penyucian. Tidak asal-asalan disembelih. Begitu juga alat-alat yang digunakan menyembelih hewan untuk caru. Wajib disucikan,” ungkapnya.

Ida Rsi menambahkan, dalam berbagai sastra disebutkan inti dalam upacara itu adalah digunakannya banten sesayut Mapepada sebagai sarana yang utama dan menjadi ciri ritual ini dilaksanakan. “Kepada siapa sesayut itu katur? Kalau manut puja sesayut itu dihaturkan ke Sang Hyang Akasa dan ibu pertiwi. Kemudian ngayab banten tersebut ke Sangkan Paraning Dumadi atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” paparnya.

Dalam prosesi itu hewan yang disucikan kemudian dimohonkan tirta Mapepada. Selanjutnya natabang ke semua beburon yang akan digunakan. Dengan harapan agar Sangkan Paraning Dumadi sudah menyupat dan menyucikan sang atma dari beburon tersebut.

Hewan-hewan yang digunakan untuk sarana caru tersebut wajib dibawa keliling untuk prosesi murwadkasina. Prosesi ini dimaknai sebagai perputaran dari alam bhur (bawah) bwah (tengah) dan swah (atas). Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi ngarga tirta mralina.

Dalam sebuah mitologi, hewan-hewan berlomba agar menjadi sarana yang digunakan saat Mapepada. Sebab, sudah pasti didoakan agar derajatnya naik dari yang sebelumnya hanya memiliki dwi pramana, meningkat menjadi tri pramana.

“Kita doakan agar atma beburon itu agar mendapat tempat yang bagus. Saat reinkarnasi bisa meningkatkan derajatnya menjadi makhluk yang lebih tinggi. Bahkan bisa menjadi manusia atau wiku santi,” katanya.

Secara filosofi Mapepada memiliki makna agar manusia bisa menghormati semua ciptaan Tuhan. Baik itu hewan berkaki dua maupun berkaki empat. Sebab, secara esensi dari sebuah prosesi beragama itu  adalah kesucian, dan menjaga kesakralan.

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kerthananda menjelaskan, Mapepada hanya akan dilakukan jika menggunakan sarana hewan berkaki empat sebagai wewalungan. Sedangkan jika caru yang hanya menggunakan hewan berkaki dua, cukup dilakukan penyucian dengan tirta saja.

“Kalau sudah caru besar, minimal beburon yang akan dijadikan wewalungan biasanya berkaki empat. Kalau sudah menggunakan kaki empat, sudah pasti Mapepada. Kalau kaki dua boleh tidak Mapepada, hanya cukup disucikan dengan tirta saja,” ungkapnya.

Penggunaan asu bang bungkem dalam ritual pacaruan bukanlah tanpa alasan. Di Bali diyakini kalau ada anjing mulutnya merah, secara ciri-ciri memiliki kesetiaan, pengabdi, tidak banyak menggonggong tidak karuan, itu bisa dikatakan sebagai jenis anjing yang bermanfaat dan berguna. Bahkan, relatif susah mencari anjing seperti ini. Sebab, yang digunakan harus sudah dewasa, tapi belum pernah kawin, dan harus jantan. Kalau betina yang diambil, lanjutnya, tentu akan berdampak terhadap keseimbangan ekologi.

“Olahan caru dari daging asu bang bungkem hulunya disebut Sanggah Durga.  Kakinya sanggah durga itu satu dengan bentuk segi empat. Kalau binatang yang lain disebut Sanggah Tutuan, ini yang khusus,” jelasnya.

Dalam posisi letak arah mata angin, caru bang bungkem menempati posisi kaja kauh  atau barat daya. Sedangkan olahannya dalam caru daging asu bang bungkem dibagi menjadi 33 tanding.

Ida Rsi Kerthananda menambahkan, jika wewalungan sudah disucikan maka perlu diperlakukan secara khusus. “Harus ditempatkan pada tempat yang wajar. Jangan dilempar, apalagi diinjak karena itu digunakan sebagai persembahan,” pungkasnya.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #balinese #adat #hindu #pura #mapepada #caru #Griya Bubunan #Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kerthananda