Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tidak ke Laut, Warga Penestanan Cukup Malukat di Beji

I Komang Gede Doktrinaya • Minggu, 30 Oktober 2022 | 00:09 WIB
Jero Mangku Pura Desa Adat Penestanan Jro Mangku Ketut Gede Kesumawijaya. Dok Bali Express
Jero Mangku Pura Desa Adat Penestanan Jro Mangku Ketut Gede Kesumawijaya. Dok Bali Express
GIANYAR, BALI EXPRESS - Setiap Banyupinaruh, umat Hindu biasanya mendatangi sumber-sumber mata air untuk melakukan pembersihan diri, termasuk juga ke laut. Namun bagi warga di Desa Adat Penestanan, Desa Sayan, Ubud, cukup melaksanakan panglukatan di sebuah beji yang disucikan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Jero Mangku Pura Desa Adat Penestanan Jro Mangku Ketut Gede Kesumawijaya. Dia menjelaskan bahwa Banyupinaruh adalah hari pembersihan dan penyucian diri. “Umat Hindu Desa Adat Penestanan menjalani prosesi malukat atau menyucikan diri saat Banyupinaruh di Beji Pura Puseh dan Desa,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa Banyupinaruh merupakan hari yang diyakini oleh umat Hindu sebagai waktu yang baik untuk menyucikan diri secara spiritual dengan mandi di mata air. Sedangkan prosesi malukat bertujuan membersihkan diri dari lara, papa, roga, wighna, upadrawa, petaka dan dasa mala. "Hari Minggu kemarin, berdasarkan kalender Bali masuk Redite Paing Sinta bertepatan dengan Banyupinaruh yang dilaksanakan sehari setelah Saraswati alias hari turunnya ilmu pengetahuan,” bebernya.

Masyarakat di desa setempat sudah mulai berdatangan ke beji sejak sekitar pukul 06.00. Mereka malukat menggunakan pakaian adat dan selanjutnya melakukan persembahyangan.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#ritual #bali #banyu pinaruh #balinese #Cukup Malukat di Beji #hindu #pura #tradisi #Tidak ke Laut