Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Karya Mewayon Tuntas Ditandai dengan Balian Desa Karauhan

I Komang Gede Doktrinaya • Rabu, 2 November 2022 | 02:22 WIB
Kelian Bendesa Adat Cempaga I Putu Karya Darma. Ist
Kelian Bendesa Adat Cempaga I Putu Karya Darma. Ist
BULELENG, BALI EXPRESS -Desa Adat Cempaga, Kecamatan Banjar, Buleleng memiliki tradisi upacara khusus yang dilaksanakan setahun sekali, bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat.

Karya Agung Mewayon diyakini sebagai upacara yang paling besar bagi masyarakat (krama) Desa Adat Cempaga, Kecamatan Banjar, Buleleng. Tradisi upacara khusus yang dilaksanakan setahun sekali ini bertepatan dengan Purnama Sasih Kapat. Bagaimana prosesinya?

Prosesi saat Mewayon Pura Desa diawali dengan Mekuut. Setelah Mekuut dilanjutkan dengan mendak pada malam harinya. Mendak Ida Bhatara dilakukan di Pura Cepug dan Pura Rambut Naga. Keesokan harinya dilakukan pebatan, kemudian dilanjutkan pada sore hari Melasti ke Segara Labuhan Aji.

Kelian Bendesa Adat Cempaga Putu Karya Darma mengatakan, Melasti dilakukan dengan berjalan kaki dari Desa Cempaga menuju Segara Labuhan Aji di Desa Temukus. Pelastian diiringi oleh arca lingga di dadia masing-masing dan pralingga yang berstana di parahyangan desa. Krama terlibat Melasti bisa mencapai 2.000 orang. “Ribuan krama inilah sambil berjalan kaki mereka ngiringang Ida Bhatara-Bhatari masucian di Segara Labuan Aji,” kata Karya Darma.

Usai ngider di Labuan Aji, dilanjutkan dengan Medameh. Itu artinya membersihkan duwen Ida Bhatara dan krama desa. Selesai Medameh, krama kembali ngiring pralingga maupun arca kembali ke Pura Desa sekitar jam 5.30 pagi.

Sampai di Pura Desa, Arca lingga di Pura desa dan milik dadia distanakan di Bale Gede. Nah pada malam harinya inilah dilaksanakan pecacaran, dan pementasan Tarian Rejang, dari pukul 21.00 sampai pukul 03.00. Selesai itu dilanjutkan dengan Tari Igel Truna, Igel Desa dan Igel Ulun Desa.

“Saat puncaknya, Balian Desa duduk di bale kemudian ditunjuk menggunakan tombak. Sehingga Balian Desa karauhan, jika sudah demikian artinya karya agung dengan menggunakan sarana bebantenan tersebut tuntas dilaksanakan,” pungkasnya. (dik/wan)

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #Wujud Syukur Krama #balinese #Ritual Terbesar #Pura Desa Cempaga #hindu #tradisi #Karya Agung Mewayon #Tari Rejang Ngunde