Usaba ini dilaksanakan setahun sekali, dirayakan sebulan penuh. Mulai persiapan, pelaksanaan, hingga penutupan ada beragam hidangan yang khusus dipersembahkan dalam mengiringi karya.
Usaba Sambah diawali dengan Memiut, yaitu persembahyangan yang dilakukan di Pura Penataran Yeh Santi, Pura Dalem, dan Pura Puseh untuk memohon keselamatan karena akan melangsungkan usaba. Puncak acara ini ditandai dengan Mekare-kare atau megeret pandan. Banyak juga menyebutnya perang pandan.
Kelian Adat Tenganan Pegringsingan, Jro Putu Suarjana mengatakan, upacara Usaba Sambah dilaksanakan setiap tahun sekali pada bulan kelima kalender Tenganan, sekitar Juni dan Juli pada kalender masehi.
Usaba memiliki serangkaian acara yang dilaksanakan dalam satu bulan kalender Tenganan Pegringsingan. Beberapa prosesi yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat, seperti Memiut, sangkep krama desa, Mati Ombo Jegjeg Ai, Pebani, Punama, Mulan Saat, Mulan Daha, persembahyangan, maling-malingan, Mabuang Kala, Mekare-kare, dan upacara nyimpen nyahagang
Dalam pelaksanaan Usaba Sambah, terdapat beberapa hidangan khas. Hidangan saat upacara ini tidak ada di desa-desa lain. Sebab dibedakan dari bahan yang dipergunakan, cara mengolah, dan tata cara penyajiannya. Hidangan tersebut berbeda-beda dari tahap persiapan, pelaksanaan hingga penutupan acara.
Sebut saja hidangan saat persiapan upacara. Makanan yang disajikan yakni pengepunjung. Makanan ini memiliki kekhasan, yaitu dari teknik penyajiannya yang menyajikan nasi putih dengan porsi besar dilengkapi udang goreng, telur rebus yang sudah dibagi menjadi empat, dan ditambah dengan pesan palem. “Bahan yang digunakan dalam pembuatan pengepunjung adalah beras, udang, telur, kelapa muda, bawang merah, gamongan, garam, dan daun pisang,” sebutnya.
Kemudian jajanan khas yang disajikan pada saat upacara, yaitu patulaya. Jajanan ini berbentuk bola dengan diameter sekitar 3 cm. Bahan dasarnya berupa beras, ketan hitam, dan ketan putih.
Jajanan selanjutnya yakni uduan. Jajanan ini memiliki kekhasan dari bentuk dan teknik penyajiannya yang disajikan dengan porsi besar. Uduan terdiri dari bubuh yang berbentuk kerucut, jaja iwel putih dan jaja iwel hitam yang berbentuk persegi panjang, jaja kembung putih dan jaja kembung merah yang berbentuk bantal, jambal angin yang berbentuk persegi, dan dilengkapi dengan buah-buah lokal yang berukuran besar.
Sedangkan hidangan yang disajikan pada tahap pelaksanaan upacara adalah ketambat. Cirinya diikat secara vertikal dan horizontal, berbeda dengan ketambat yang disajikan sehari-hari yang hanya diikat sekali saat pembuatan.
Hidangan lauk yaitu cacah, memiliki kekhasan dilihat dari bahan yang digunakan yaitu menggunakan parutan tradisional yang disebut klau dan ditambah dengan daging, kulit, usus beserta isinya, otak, tulang rawan, hati, dan lemak. Bahan yang digunakan dalam pembuatan cacah adalah kelapa, daging, kulit, usus beserta isinya, otak, tulang rawan, hati, lemak kerbau, lengkuas, bawang putih dan kemiri.
Lauk pauk selanjutnya yaitu marus, dibuat dengan bahan dasar kelapa yang diparut dengan parutan tradisional dan ditambah dengan bumbu. Biasanya hidangan ini dikonsumsi dengan nasi putih. Bahan yang digunakan adalah kelapa, bawang merah, jahe, kunyit, bangle, garam, tabie bun, terasi, darah kerbau, dan daun pisang.
Ada yang namanya pesan les. Hidangan ini terbuat dari daging babi lengkap dengan bumbu. Pesan les mempunyai cita rasa yang pedas. Bahan yang digunakan adalah daging babi, garam, terasi, limau, santan, dan tabie bun.
Ada juga be mejakan sebagai pelengkap yang dibuat dari rebusan daging babi ditambah bumbu dan direbus sampai matang minimal selama 1 jam di dalam wajan besar. Bahan yang digunakan dalam pembuatan adalah daging babi, garam, terasi, cabai kecil, dan daun salam. Kemudian petis.
Hidangan berkuah ini terbuat dari rebusan daging ayam dan ditambah dengan bumbu. Bahan yang digunakan adalah daging ayam, garam, terasi, bawang merah, jahe, kunyit, bangle, santan, dan tabie bun.
Hidangan sayuran khas yang disajikan pada saat upacara Usaba Sambah yaitu ononan memiliki kekhasan dari bahan yang digunakan yaitu daun beludru dan daun pas-pasan.
Dedaunan ini sering dijumpai di desa lain, namun penggunaan daun tersebut biasanya dipakai sebagai makanan untuk hewan ternak.
Pademare, merupakan hidangan khas yang disajikan sebagai hidangan pelengkap. Pademare yaitu campuran dari daun belimbing, lawar, dan bumbu. Bahan yang digunakan dalam pembuatan pademare adalah daun belimbing, daging babi, kelapa, bawang merah, jahe, kunyit, bangle, garam, terasi, tabie bun. pademare adalah daun belimbing, daging babi, kelapa, bawang merah, jahe, kunyit, bangle, garam, terasi, tabie bun.
Jajanan khas yang disajikan pada saat upacara Usaba Sambah di Desa Tenganan Pegringsingan yaitu kembung merah. Dilihat dari bentuk dan ukuran jajanan yang besar. Bahan yang digunakan adalah tepung beras, kelapa, gula merah, garam. Ada pula kembung putih yang berbahan tepung beras, kelapa, dan garam.
Plegantung adalah jajan berbahan dasar dari tepung beras. Bahan yang digunakan dalam pembuatan plegantung adalah tepung beras, kelapa, garam, dan janur. Selain itu masih ada beberapa jenis jajanan lainnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya