Dosen Bahasa Bali, STAHN Mpu Kuturan Made Susila Putra mengatakan, Sang Hyang Pamunah Sakti dan Sang Hyang Sepuh diperintahkan oleh Dewi Uma untuk turun ke dunia untuk membasmi hama burung. Dalam hal tersebut petani memberikan gancaran atau sesajen agar sedia turun membantu melindungi sawah dari serangan hama burung. Dengan demikian, petani tidaklah sendiri dalam hal melindungi padi.
Dengan penuh keterbatasannya mengolah alam yang memiliki kekuatan di luar batas kemampuan manusia, petani memohon bantuan kepada dewa pujaannya yang dianggap mampu membasmi segala gangguan yang datang dari alam.
Di dalam Usada Carik, salah satu cara menangkal datangnya hama burung yaitu pamungkem kedis yang dapat dikatakan untuk membungkam mulut/paruh burung. Pamungkem kedis tersebut menggunakan mantra: Ong kaki bungkem, nini bungkem, bungkem bah pasang sang manuk, pamangan parining bhaṭara guru.
“Hama lahir dan datang dari alam serta mengikuti kehendak alam. Dengan demikian, petani tidak dapat mengatur alam dan mengendalikan datangnya hama. Satu-satunya jalan yang dapat dilakukan adalah memohon kepada alam. Dari sanalah muncul komunikasi petani kepada alam bahkan penguasa alam yang dapat mengendalikan hama,” tutupnya. (dik/wan)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya