Perbekel Nagasepaha Wayan Sumeken menceritakan, seni lukis wayang kaca Nagasepaha adalah lukisan di atas media kaca pertama di Buleleng, bahkan di Bali. Seni lukis itu dibuat dan dikembangkan oleh Ketut Negara atau terkenal dengan panggilan Jro Dalang Diah (alm) pada tahun 1927.
Mendiang Jro Dalang Diah merupakan tokoh dalang wayang kulit kelahiran Nagasepaha tahun 1909, yang memulai kehidupan berkeseniannya pada bidang wayang kulit Bali.
Selain mahir memainkan wayang, Jro Dalang Diah dikenal sebagai perajin wayang yang andal. Di daerah Buleleng pada masa itu, perajin wayang Desa Nagasepaha sangat disegani, bahkan menjadi desa perajin wayang terbesar di Buleleng.
Berbekal kemahiran memainkan wayang dan membuat wayang kulit, Jro Dalang Diah mulai menemukan referensi karya baru pada lukisan kaca Jepang. Dengan pengamatan cermat dan detail, ia kemudian mencobanya berkali-kali pada media kaca sampai ketemu wujud seni yang diwariskan sekarang.
Jro Dalang Diah mengenal lukisan seperti itu karena peran dari Wayan Nitia yang memintanya untuk membuat lukisan wayang dengan media kaca. Wayan Nitia menyodorkan sebuah lukisan kaca bertema perempuan Jepang memakai kimono, karena kecintaan Wayan Nitia terhadap wayang, ia kemudian menemui Jro Dalang Diah dan menawarkan untuk melukis wayang di kaca serupa dengan lukisan wanita Jepang tersebut.
Merasa tertantang, Jro Dalang Diah kemudian mulai proses dengan mencermati lukisan wanita Jepang di atas media kaca tersebut, olehnya lukisan kaca tersebut dikuliti bagian demi bagian, secara cermat kemudian menganalisa teknik melukis pada media kaca yang pada bagian akhir.
Proses menguliti cat yang menempel pada kaca menyebabkan lukisan tersebut menjadi hancur. Tantangannya kemudian, Jro Dalang Diah harus membuat sebuah fragmen wayang kulit dengan media kaca bekas lukisan wanita Jepang yang sudah dikuliti dan dipelajari tekniknya.
Jro Dalang Diah menggunakan jelaga dengan pengencer air untuk membuat bagan wayang di atas permukaan kaca, tetapi bahan itu tidak menempel dengan baik. Kemudian ia memilih tinta cina batangan dengan pengencer air, dan menggunakan pena. Ternyata tinta itu bisa menempel dengan baik pada permukaan kaca.
Jro Dalang Diah mulai merasa senang. Persoalan kemudian muncul, ia tak mengetahui pewarna apakah yang bisa menempel pada kaca, lalu dicoba cat kayu. Syukur, cat ini bisa menempel dengan baik pada permukaan kaca.
Berbekal pengalaman, Jro Dalang Diah kemudian mengetahui adanya sebuah kesalahan dalam melukis di atas permukaan kaca bahwa seharusnya ia melukis dengan cara terbalik, karena pada waktu ia melukis dengan pandangan biasa ada satu tangan yang tertutup badan wayang.
“Setelah proses melukis tersebut Jro Dalang Diah mempunyai keinginan untuk mengajarkan temuannya kepada anak-anak, cucu juga tetangganya, hingga akhirnya berkembang seni lukis wayang kaca seperti saat ini,” jelas Sumeken.
Singkat cerita, tahun 2019 silam Pemkab Buleleng telah mengajukan seni lukis wayang dengan media kaca ini sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Bukan tanpa alasan pengusulan itu dilakukan. Sebab, seni lukis tersebut mempunyai nilai sejarah dan masih tetap lestari keberadaannya. Terpenting, seni lukis warisan yang telah diwariskan oleh leluhurnya ini tidak diklaim oleh daerah lain.
Kemudian tahun 2020 akhirnya sertifikat yang menyatakan seni lukis wayang kaca sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) diterima. Setidaknya, pengakuan ini bisa sedikit melegakan masyarakat, khususnya seniman lukis kaca warisan seni karya leluhur mereka tidak diklaim dan dijiplak oleh daerah lain.
Kini, pasca-terbitnya sertifikat WBTB tersebut, Desa Nagasepaha tidak hanya larut dalam euphoria kebanggaan. Namun mereka memiliki pekerjaan rumah yang lebih besar, yakni membangkitkan kembali niat anak muda di desa setempat untuk mempelajari kembali seni lukis wayang kaca.
“Rupanya semakin hari semakin menyusut jumlah perajinnya. Dari jumlahnya 70-an orang, terus berkurang menjadi 50-an orang, dan kini semakin menurun sampai tidak lebih dari 15 orang perajin saja,” keluh Sumeken.
Pelatihan sudah pernah dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Dengan semangat dan tujuan terlahir seniman-seniman muda yang mau menggeluti seni lukis wayang dengan media kaca agar tetap lestari.
Alih-alih peminat dari generasi muda meningkat, tampaknya apa yang telah dilakukan pemerintah berjalan belum maksimal. Usai pelatihan para calon-calon seniman ini dilepaskan begitu saja tanpa ada edukasi lebih lanjut.
Alhasil, harapan jauh dari kenyataan.
Pemuda tetap lebih tertarik bekerja di sektor lain yang dianggap lebih cepat menghasilkan uang. Ada yang bekerja di sektor pariwisata, maupun di sektor swasta.
“Generasi muda sepertinya berpikir dua kali untuk memutuskan mengambil pekerjaan sebagai seorang seniman. Mereka memilih untuk mencari pekerjaan yang menjanjikan masa depan yang lebih jelas,” sebutnya.
Sumeken juga berharap, pemerintah melakukan upaya lebih konkrit dalam menaikkan minat para generasi muda belajar. Salah satu usulannya, agar memfasilitasi, minimal setiap kantor desa di Buleleng memajang lukisan khas Nagasepaha di ruangannya masing-masing.
Upaya ini tentu sebagai bentuk penghargaan bagi seniman di Nagasepaha. Bahkan, bisa memacu seniman untuk terus berkarya karena adanya permintaan lukisan itu dari para perbekel di seluruh Buleleng.
“Bukan sebatas meraih WBTB, tetapi setelah itu dibiarkan begitu saja. Butuh langkah yang lebih nyata sehingga seniman termotivasi terus menghasilkan lukisan yang berkualitas, karena memang dibutuhkan oleh pasar,” pungkasnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya