BULELENG, BALI EXPRESS -Ada rencanamenikah di tahun 2023? Bila ada, ini sejumlah rekomendasi tanggal baik berdasarkan padewasan pawiwahan (pernikahan) bagi umat Hindu untuk tahun 2023.
Rekomendasi hari baik pawiwahan itu tetap memperhatikan wewaran, pawukon, tanggal, sasih dan dauh (Wepatangsada)
Penyusub Kalender Bali Gede Marayana mengatakan, upacara pawiwahan tidak terlepas dari ala ayuning dewasa dalam perhitungan wariga. Sebab, penentuan padewasan dalam meresmikan kehidupan grahasta asrama dipengaruhi oleh berbagai unsur, mulai dari wewaran, pawukon, tanggal panglong, sasih dan dauh.
Dikatakannya, wariga adalah ilmu pengetahuan tentang sifat atau watak dari wewaran (hari baik dalam melakukan suatu aktivitas), tanggal atau panglong (hari setelah dan sebelum bulan Purnama), wuku (siklus tanggal), ingkel (hari pantangan), sasih (12 masa waktu di Bali) dan lain-lain yang bersumber dari ajaran agama Hindu yaitu Jyotisa Wedangga.
Dalam padewasan pawiwahan, disarankan agar wewaran harus baik, begitu pula pawukon, tanggalnya, sasih dan dauh harus baik. “Semua unsur-unsur itu membawa pengaruh, sehingga semuanya harus baik,” kata Gede Marayana kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (21/12) siang.
Dikatakan Marayana, wewaran yang baik adalah menitikberatkan pada saptawara atau hari-hari dalam seminggu. Di antara saptawara yang dipilih di antaranya Senin, Rabu, Kamis, dan Jumat. Namun, penting dihindari pawiwahan pada hari Minggu (buruk), Selasa (buruk sekali) dan Sabtu (buruk sekali).
Perhitungan pawukon yang wajib dihindari, jika ingin menggelar upacara pawiwahan adalah Ingkel Wong, Was Panganten, Rangda Tiga, Nguncal Balung, dan paling dihindari adalah Wuku Wayang. “Itu wajib dihindari. Apalagi Wuku Wayang dianggap cemer (kotor) untuk pawiwahan,” imbuhnya.
Sedangkan Rangda Tiga merupakan wuku tertentu yang dianggap buruk untuk melangsungkan pernikahan. Wuku-wuku itu yakni Wariga, Warigadean, Pujut, Pahang, Menail, dan Prangbakat. Ada keyakinan, jika menikah pada saat Rangda Tiga, dikhawatirkan perkawinan bisa berakhir dengan perceraian.
“Rangda itu artinya janda atau duda. Rangda Tiga artinya tiga kali menjadi janda atau duda. Artinya pernikahan akan selalu gagal,” beber Marayana.
Kemudian Was Panganten merupakan hari-hari tertentu, seperti Minggu Kliwon dan Jumat Pon wuku Tolu, Minggu Wage dan Sabtu Kliwon wuku Dungulan, Minggu Umanis dan Sabtu Pahing wuku Menail, serta Minggu Pon dan Sabtu Wage wuku Dukut. Hari-hari ini juga dianggap kurang baik untuk melangsungkan pernikahan.
Sedangkan Nguncal Balung, yakni sepanjang 35 hari, sejak Buda Pon Sungsang atau sehari sebelum Sugihan Jawa atau seminggu sebelum Galungan, hingga Buda Kliwon Wuku Pahang yang juga kerap disebut sebagai Buda Kliwon Pegat Wakan.
Marayana menegaskan, pada hari itu, umat Hindu biasanya pantang untuk melaksanakan upacara-upacara besar, utamanya yang bersifat ngawangun seperti ngaben dan pernikahan. “Kalau Uncal Balung memang berakhir di Buda Kliwon Pahang. Tetapi saat Wuku Krulut karena sifatnya Was Penganten, maka belum bisa melaksanakan upacara perkawinan, setelah Wuku Krulut barulah bisa,” paparnya.
Begitu pun dengan Ingkel Wong, yang artinya hari-hari naas bagi manusia. Karenanya, saat itu tidak baik melaksanakan kegiatan atau upacara yang berkaitan dengan manusia termasuk pernikahan.
Selain itu, perhitungan sasih tidak boleh diabaikan dalam menentukan hari baik melaksanakan upacara perkawinan. Disebutkan Marayana, dari 12 sasih dalam setahun, umat Hindu di Bali meyakini pelaksanaan upacara panca yadnya hanya boleh dilaksanakan dari Sasih Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kaulu, Kasanga, dan Kadasa.
Sedangkan untuk Sasih Jyestha dan Sadha dikatakan sasih sebel, sehingga dihindari untuk menggelar upacara panca yadnya, termasuk pawiwahan. Sasih yang direkomendasikan melaksanakan upacara pawiwahan adalah Sasih Katiga, Kapat, Kalima, Kapitu dan Kadasa.
“Sasih Katiga itu bulan Agustus-September, Kapat itu bulan September-Oktober, Sasih Kalima adalah Oktober-November. Lalu untuk Sasih Kapitu yakni Desember-Januari, dan Sasih Kadasa antara bulan Maret-April,” ungkapnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya