Piodalan di Palinggih Ratu Bagus Sundawan ini dilaksanakan beberapa kali. Pertama pada Purnama Sasih Kalima, piodalan seperti biasa atau kecil. Piodalan kedua setiap enam bulan sekali bertepatan pada Buda wage Kelawu atau yang dikenal dengan rahina Buda Cemeng Kelawu, yang diyakini akan melimpahkan kemakmuran dan kesejahteraan. Selanjutnya piodalan setiap lima tahun sekali pada Sasih Kapitu dengan prosesi mulang pakelem ke laut sebagai wujud persembahan.
Dikatakan Panyarikan Pura Negara Gambur Anglayang Nyoman Laken, rangkaian pelaksanaan pemujaan itu berbarengan dengan saat odalan di Pura Negara Gambur Anglayang.
Palinggih Ratus Bagus Sundawan diempon oleh krama Desa Tajun dan keluarga Arya Kebon Tubuh. “Jadi pada saat piodalan merekalah yang terjun bahu membahu untuk mempersiapkan segala sarana dan prasarana upacara, baik dari menghias palinggih sampai upacara piodalan selesai,” katanya.
Piodalan di Palinggih Ratu Bagus Sundawan menggunakan sarana berupa banten suci asoroh sebagai sarana pemujaan banten suci asoroh terdiri dari banten suci, daksina, peras, ajuman tipat kelanan, banten duma, banten pisang matah, dan pisang lebeng banten pembersihan, canang lengawi burat wangi dan canang sari.
Baik piodalan alit atau ageng sarana yang terpenting adalah banten suci ngulap ambe yang dipergunakan untuk mendak Ida Bhatara, sehingga tedun dan berstana di palinggih, yang setelah banten tersebut distanakan barulah dilanjutkan oleh panyukcuk atau panyungsung melaksanakan persembahan sesuai kebiasaan adat setempat.
“Khusus untuk Palinggih Ratu Bagus, dihaturkan ayam jantan dengan bulu bebas, kelapa muda, dan berbagai jenis minuman beralkohol,” imbuh Laken.
Kepercayaan umat Kristen terhadap mitos Palinggih Ratu Bagus Sundawan di Pura Negara Gambur Anglayang dapat dikategorikan masih tinggi. Tak sedikit yang datang untuk melakukan persembahyangan di sana, meskipun tidak selalu saat piodalan. “Mereka juga sering berdana punia untuk palinggih ini,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya