Menurut kepercayaan leluhur di desa tersebut, seseorang lahir ke dunia tidak menentukan hari baik. Begitu pula saat meninggal. Jika hari ini meninggal, harus dikubur hari ini juga.
Bila meninggalnya malam, waktu pemakamannya tidak boleh terlewat dari jam 12 siang pada keesokan harinya. “Yang jelas, jika memiliki halangan seperti itu harus segera dikebumikan,” ujar warga Tigawasa Putu Widiantara, pekan kemarin.
Warga di desa tersebut mengubur mayat tidak di setra atau kuburan Hindu pada umumnya. Penguburan dilakukan di tengah hutan. Ya, hutan itulah yang disakralkan oleh warga desa dan dimanfaatkan sebagai setra atau tempat pemakaman.
Di dalam hutan itu tidak ada yang berani mencari sesuatu. Orang-orang hanya dapat memasuki hutan atau setra itu ketika akan melakukan pemakaman. “Orang yang tidak berkepentingan tidak boleh masuk. Kecuali bawa mayat. Kami punya setra di hutan,” tambah perajin bambu di Tigawasa ini.
Uniknya lagi, saat akan melakukan pemakaman, warga harus berjalan kaki menuju hutan itu. “Mereka harus jalan kaki. Itu adat kami, kalau tidak diikuti lama-lama akan punah. Terkecuali memang mereka meninggalnya jauh. Seperti di luar kabupaten misalnya, kan tidak mungkin mereka jalan kaki. Tapi pastinya mereka akan dibuatkan tata caranya agar bisa menuju ke setra,” tegasnya. Editor : I Komang Gede Doktrinaya