Hal itu sudah berlangsung dari zaman dahulu. Tetapi tidak diketahui sejak kapan budaya itu dilestarikan di sana. Begitu pula mengenai alasannya. Tidak ada yang mengetahui secara pasti.
Kendati tidak memiliki sanggah, bukan berarti masyarakat di desa itu tidak pernah melakukan yadnya. Mereka melakukan seluruh rangkaian upacara di dalam rumah. Sebab, sanggah yang dimaksud berada dalam rumah. “Semuanya dilakukan di dalam rumah. Termasuk merayakan Galungan dan Kuningan, kami tidak ke sanggah. Karena tidak punya sanggah,” ujar Pamangku Desa Jro Mangku Ketut Sudaya, belum lama ini.
Sanggah yang dibuat dalam rumah itu tidak boleh sembarangan dilihat orang. Tempat itu hanya boleh diakses dan dilihat oleh anggota keluarga. Sanggah itu dibuat dari bambu tali (tiyingtali). Lantas dibuat di atas tempat tidur. Bila dibayangkan mirip seperti pelangkiran, namun ukurannya lebih besar. “Seperti pepaga,” singkat salah satu warga Desa Tigawasa, Putu Widiantara.
Apabila ada upacara besar seperti Galungan dan Kuningan, anggota keluarga di rumah tersebut ngayat (sembahyang) dari sanggah itu. Posisi di dalam rumah juga diyakini sebagai pelindung anggota keluarga. “Ngayat dari sana. Misalnya ada sakit, kesambet (sakit gaib) dari sana mengayat memohon obat. Kemudian, misalnya kecelakaan di Lovina, tidak ngulapin ke sana. Tinggal minta doa dari kamar saja,” sambung Widiantara.
Meski demikian, ada beberapa masyarakat yang memiliki sanggah di luar rumah. Tetapi kepercayaan membuat sanggah di dalam rumah masih tetap dipegang teguh. “Dari dahulu seperti itu, leluhur mungkin membuat simple persembahyangan. Kalau sekarang ada sanggahnya tidak apa-apa. Tapi 99 persen semua masih percaya terhadap tradisi ini,” kata dia.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya