Meski sudah dilaksanakan sejak tahun 1876 atau 147 tahun, ternyata masih ada 14 lesung yang masih tersimpan di banjar setempat. Dari jumlah itu, ada satu buah lesung yang tidak boleh dipakai. Alasannya karena disakralkan. Lesung-lesung inilah yang digunakan masyarakat untuk Ngoncang sebagai ungkapan syukur, sekaligus hiburan setelah masa panen padi berlimpah.
Sekretaris Desa Adat Buleleng, Putu Mahendra mengatakan, tradisi Ngoncang ini erat kaitannya dengan konsep Tri Hita Karana, yaitu parahyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), pawongan (hubungan manusia dengan lingkungan) dan palemahan (hubungan manusia dengan manusia).
Dalam kaitannya dengan parahyangan, tradisi Ngoncang dikonsepkan sebagai suatu persembahan kepada para leluhur dan para dewa. Persembahan ini sebagai bukti bahwa para pratisentananya telah melakukan suatu ritual yang menghantarkan roh para leluhur untuk menuju suatu tempat yang damai di alam niskala.
Sedangkan kaitannya dengan palemahan, masyarakat di Banjar Adat Paketan percaya dengan dilaksanakannya tradisi Ngoncang akan terjalin hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungan. Sebaliknya, apabila tidak dilaksanakannya tradisi ini, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Terkait dengan pawongan, dalam prosesi ritual ngoncang dilakukan dengan menghentakkan lu kedalam kentungan dengan irama yang serasi yang menandakan satu kesatuan, bahwasanya dalam tradisi Ngoncang ini dapat menumbuhkan rasa satu kesatuan antara sesama manusia,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya