Muhu-Muhu dilaksanakan pada sasih kapitu yang disesuaikan dengan perhitungan kalender Desa Adat Tenganan Pegringsingan yang jatuh pada kajeng kliwon wud. Daha dan teruna desa mendapatkan prioritas dalam menyaksikan tradisi tersebut. Tujuannya agar dapat lebih mengartikan serta memaknai tradisi tersebut dengan mengaplikasikannya terhadap diri sendiri dan gumi (lingkungan) Desa Adat Tenganan Pegringsingan.
Kelian Adat Tenganan Pegringsingan Jro Putu Suarjana mengatakan, pelaksanaan tradisi Muhu-Muhu sesungguhnya adalah penyucian Bhuana Agung dan Bhuana Alit (makrokosmos dan mikrokosmos). Tradisi ini diawali dengan berkumpulnya krama desa di wilayah desa bagian timur. Krama setempat menyebutnya di Pengemitan (wilayah sekitar dalem kangin/timur).
Segala bentuk keperluan upacara dilakukan di tempat tersebut. Namun bahan-bahan yang diperlukan sebelumnya telah dipersiapkan di Bale Agung.
Sarana yang dipersiapkan, sebut Suarjana, diantaranya ada carang kayu dapdap, bakal, base (daun sirih), tebu goak, buah (pinang), tiing (bambu), tapis, daun kelapa, sangket kalak, ubi aung buluh, kuud (kelapa muda), bungsil barak, biu kayu mapusuh dan sangketkalak.
Proses penggarapan sarana upakara dimulai dari pembuatan perahu-perahuan yang merupakan salah satu bahan utama dalam tradisi Muhu-Muhu. Perahu-perahuan dibuat oleh krama lanang. “Dimulai dengan perakitan batang kayu dadap yang telah dilengkapi dengan sasap serta daun apah, dengan yang panjang dibutuhkan dua batang yang panjangnya sebagai alas sisi-sisinya, lalu disusun membuat bidang lebar dengan jumlah batang masing-masing sembilan batang kiri dan ke kanan dengan disusun rapi,” terang Suarjana.
Jika sarana upacara yang digunakan dalam tradisi Muhu-Muhu untuk esok harinya sudah rampung, krama desa melakukan pertemuan singkat atau sangkep. Sangkep yang dipimpin oleh Kelian Adat Tenganan Pegringsingan yang bertempat di Dalem Kangin atau Pengemitan disebut dengan sangkep kuud atau juga disebut dengan nyangkepin kuud.
Sesuai dengan namanya, dalam pelaksanaan rapat ini dilengkapi dengan kuud (kelapa muda) yang disertai dengan isian gula aren. Jumlah kuud yang digunakan sebanyak enam sampai tujuh buah yang dikondisikan dengan jumlah peserta krama desa. Kuud itu diletakkan tepat di tengah-tengah kegiatan sangkep.
Nyangkepin kuud merupakan bagian akhir dari persiapan Muhu-Muhu yang akan dilaksanakan keesokan harinya. Dengan diadakannya sangkep, maka akan mudah mendapatkan solusi yang terbaik untuk kepentingan saat puncak upacara.
Sasih kapitu wud pang solas tepat saat kajeng kliwon merupakan proses awal dari tradisi Muhu-Muhu. Krama Tenganan Pegringsingan terlebih dulu melakukan sebuah ritual persembahan dengan melaksanakan Masanggah Duri. Ini dilaksanakan pada pagi hari.
Masanggah Duri merupakan proses mesanggah bagian akhir yang dilakukan krama desa, sama seperti halnya dengan Masanggah Jummu maupun Masanggah Tengah. Masanggah Duri merupakan yadnya yang dipersembahkan sesuai dengan aturan yang disepakati oleh krama desa setempat.
Pagi hari setelah upacara Masanggah Duri selesai dilaksanakan, krama menggelar sangkep untuk mematangkan kegiatan yang akan dilaksanakan. Sangkepan di Bale Agung hanya diikuti oleh krama desa muani (laki-laki) dengan membagi diri menjadi dua bagian sesuai dengan aturan yang berlaku dalam tingkat organisasi desa.
“Bagian yang duduk di sebelah kanan akan diberikan tugas menyelesaikan upacara di Dalem Kangin atau di Pengemitan, sementara bagian yang duduk sebelah barat tetap berada di Bale Agung untuk melaksanakan persiapan tradisi Muhu-Muhu,” imbuh Suarjana
Prosesi di Bale Agung yakni krama desa melakukan persembahan dengan ayam jantan dan betina. Ayam itu disembelih, darahnya disebar mengitari Sanggah Duri yang terdapat di Bale Agung sebagai simbol ngider buana. Tujuannya menjaga kestabilan alam, untuk kekuatan penegteg jagat atau kestabilan bhuana agung, bhuana alit.
Pada siang hari, upacara puncak dari tradisi Muhu-Muhu dimulai. Sesuai dengan tugas masing-masing di krama desa muani yang telah dibagi menjadi dua kelompok, yakni krama desa yang duduk di bagian timur yang disebut dengan Ngencana menuju Dalem Kangin, sedangkan yang duduk di bagian barat tetap di Bale agung.
“Masing-masing dari dua kelompok ini memiliki pemimpin. Khusus untuk kelompok krama desa bagian barat dipimpin oleh Tampingtakon Desa Adat Tenganan Pegringsingan sedangkan kelompok krama desa bagian timur dipimpin oleh kelian nomor 1 Desa Adat Tenganan Pegringsingan,” jelasnya. Seperti diketahui, ada enam kelian adat di Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Editor : I Komang Gede Doktrinaya