Dosen Sastra Agama dan Pendidikan Bahasa Bali STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Suka Ardiyasa menyebutkan, Pura Silayukti menjadi salah satu pura yang didirikan oleh Mpu Kuturan. Pura ini termasuk pura yang berstatus Kahyangan Jagat. Lokasinya di Banjar Sidakarya, Desa Padangbai Kecamatan Manggis, Karangasem.
Piodalan di pura ini dilaksanakan setiap enam bulan pada Buda Kliwon Pahang. Posisi pura berada di perbukitan dan tepi pantai. Pura Silayukti sendiri secara etimologi berarti sila berarti dasar sedangan yukti benar atau kebenaran.
Keberadaan pura ini tercatat dalam beberapa naskah lontar, diantaranya Babad Bendesa Mas, Lontar Calonarang dan Lontar Usana Bali. Dalam kutipan naskah tersebut diceritakan Mpu Kuturan mendirikan asrama di Teluk Padang (kini Teluk Padangbai) untuk tempat bersemedi yang diikuti oleh murid-muridnya.
Saat ini di Pura Silayukti terdapat empat kompleks pemujaan. Pada bagian utara adalah Pura Silayukti sebagai tempat pemujaan Mpu Kuturan. Mpu Kuturan dipuja di Meru tumpang tiga menghadap ke selatan. Meru ini sebagai palinggih utama di kompleks Pura Pasraman Mpu Kuturan.
Sebelah barat agak ke utara terdapat Pura Taman Beji sebagai tempat memohon tirta untuk sarana utama pada saat upacara di Pura Silayukti. Di kompleks bagian selatan terdapat pemujaan Mpu Bharadah, adik Mpu Kuturan disebut Pura Tunjung Sari.
“Dalam naskah disebutkan, ketika ke Bali menemui kakaknya Mpu Bharadah sempat beberapa waktu tinggal di sini dan sebelum bertolak pulang ke Jawa mendirikan parahyangan yang disebut Pura Tunjung Sari. Di Pura ini Mpu Bharadah dipuja di Meru tumpang tiga, menghadap ke barat,” jelas Suka Ardiyasa.
Sedangkan tempat meditasi Mpu Kuturan sebagai kompleks keempat berada di bagian timur Silayukti, agak turun ke sebuah goa, di tebing pantai yang curam disebut Pura Payogan. Pura ini terdiri atas bangunan sederhana berupa beberapa arca termasuk arca Mpu Kuturan di dalam tebing karang yang menyerupai goa dangkal.
Selain Pura Silayukti, Mpu Kuturan juga mendirikan Pura Sakenan. Pura ini dibangun bersamaan dengan pembangunan beberapa pura lainnya pada zaman pemerintahan Raja Sri Masula Masuli. Mengenai asal mula dibangunnya pura atau Kahyangan Sakenan ini, diulas dalam Lontar Usana Bali.
Ada juga Pura Uluwatu yang dibangun oleh Mpu Kuturan. Mpu Kuturan sebagai mahapandita pada masa pemerintahan raja suami-istri yaitu Sri Masula Masuli berkuasa dan memerintah di Bali. Hal tersebut diuraikan dalam Lontar Usana Bali yang menyebutkan bahwa pembangunan beberapa pura di Bali dilakukan oleh Mpu Kuturan, salah satunya Pura Luhur Uluwatu.
Pada naskah tersebut sangat jelas bahwa Mpu Kuturan atau yang dikenal sebagai Raja Kertha yang pertama kali membangun beberapa pura di Bali termasuk Pura Uluwatu. Setelah pura ini berdiri barulah datang Dang Hyang Nirartha yang diperkirakan sekitar tahun Içaka 1.411 atau tahun 1.489 M untuk menyebarkan ajaran Hindu.
Perjalanan Dang Hyang Nirartha mengelilingi Pulau Bali sudah menjadi cerita yang tersebar luas di kalangan masyarakat Bali. Perjalanan spiritual Dang Hyang Nirartha yang dimulai dari Jembrana berlanjut setelah bermalam di Pakendungan yaitu pura yang terletak di dekat Tanah Lot.
“Hingga kini tokoh Mpu Kuturan dan Dang Hyang Dwijendra dianggap tokoh yang paling penting terhadap pendirian Pura Uluwatu, sebab beberapa sumber menyebutkan kedua tokoh tersebut lah yang sangat berjasa dalam mendirikan dan menyempurnakan Pura Uluwatu tersebut,” ungkapnya.
Selain pura tersebut, Mpu Kuturan juga tercatat mendirikan Pura Batukaru, termasuk menyempurnakan Pura Watu Klotok, Pura Lempuyang, Pura Andakasa, Pura Goa Lawah dan beberapa pura lainnya.
Suka Ardiyasa menyatakan, Mpu Kuturan berkaitan erat dengan Palinggih Menjangan Seluang. Palinggih ini serupa bangunan gedong, terbuka tiga sisi, pada bagian depan memakai tiang dengan ciri khas berupa kepala menjangan yang terbuat dari kayu dan dilengkapi dengan kedua tanduknya.
Menjangan seluang adalah suatu bangunan sanggah (dalam pura) yang digunakan sebagai sarana untuk memuja Dewa Maspait.
Suka Ardiyasa menambahkan dalam Babad Pasek disebutkan bahwa kedatangan Mpu Kuturan ke Bali dari Majapahit memiliki misi untuk melakukan perubahan terhadap pemujaan pada tempat suci masyarakat di Bali.
Mpu Kuturan menyarankan agar masyarakat tidak lagi melakukan pemujaan dengan arca, mantra-mantra dengan bahasa Sansekerta. Pengucapan doanya agar menggunakan bahasa Bali.
Pura yang mendapatkan pengaruh dari Mpu Kuturan wajib mendirikan Palinggih Menjangan Seluang untuk menghormati jasa-jasanya.
Hal ini terjadi karena Mpu Kuturan datang ke Bali dengan diyakini menaiki seekor menjangan.
Cerita rakyat lain menyatakan bahwa Palinggih Menjangan Seluang dihubungkan dengan Mpu Kuturan yang datang dari Jawa ke Bali untuk memperbaiki pura-pura, membangun Sad Kahyangan dan juga memperkenalkan konsep tiga pura desa atau Kahyangan Tiga.
Dalam kisah itu disebutkan bahwa Mpu Kuturan datang ke Bali dengan mengendarai seekor menjangan. Oleh karena itu, Menjangan Seluang berarti bangunan untuk orang yang mengendarai menjangan.
Naskah yang memperkuat bahwa Palinggih Menjangan Seluang adalah stana Mpu Kuturan dimuat dalam naskah Mpu Kuturan B/2/172 koleksi Gedong Kirtya sebagai berikut disebutkan: Padmasaṇa rong tri, palinggiḥ Ida mpu tribhuwana, geedog jampel paliggiḥ mpu magata-magati. hana palinggiḥ bale teengaḥ saka pat, palinggiḥ Ida mpu ngaruraḥ; hana geedong mañjangan salwang palinggan ida mpu kuturan; hana palinggiḥ bale rong tiga, palungguḥ Ida bhaṭara sinuhun ring gunuŋ Agung.
Terjemahannya : Padmasana yang ruangannya tiga tempat berstananya Ida Mpu Tribhuwana; Gedong Jampel (Gedong yang memiliki 2 ruangan) sebagai stana memuja Mpu Maganta-Maganti. Ada juga altar/bale tengah yang memiliki empat tiang sebagai stana Ida Mpu Ngarurah.
Ada/Gedong Menjangan Seluang sebagai stana Ida Mpu Kuturan. Ada Altar Suci Bale Rong 3 (Gedong yang mempunyai 3 ruangan) sebagai tempat berstananya Sang Hyang Tiga. Altar Sanggar Agung sebagai tempat berstananya Ida Bhatara Sinuhun di Gunung Agung.
“Pada kutipan tersebut jelas disebutkan bahwa pura dalam bentuk sanggah dadia maupun pura lainnya yang ada di Bali wajib mendirikan Palinggih Menjangan Seluang sebagai stana Mpu Kuturan. Bentuk dari Palinggih Menjangan Seluang terdiri dari tiga ruang (rong) yang cukup besar. Rong pertama dan kedua hampir sama lebarnya kira-kira 75 sentimeter,” sebutnya.
Dalam rong yang besar yang di tengah, berisi kepala menjangan lengkap dengan tanduknya. Menjangan seluang dapat diartikan sebagai balai yang panjang dan luas.
Menjangan berarti panjang, salu berarti balai, dan wang berarti luas. Sehingga kata Menjangan Seluang diartikan sebagai lambang dari balai yang panjang dan luas, dimana tempat itu digunakan sebagai tempat pertemuan para dewa.
Palinggih Menjangan Seluang atau sakaluang dipandang sebagai penyatuan pikiran, pendapat, pandangan atau keinginan keluarga, jadi sebagai lambang persatuan dan kesatuan, serta kerukunan rumah tangga atau keluarga.
“Hal ini Mpu Kuturan sudah menyatukan sekte (paksa) yang ada di Bali, karena berkat jasa Beliau dan selalu mengingatnya maka didirikanlah Palinggih Menjangan Seluang/Sakaluang,” tutupnya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya