Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pekarangan Dibagi Tiga, Angkul-Angkul Jadi Penyaring Energi Negatif

I Komang Gede Doktrinaya • Sabtu, 13 Mei 2023 | 20:42 WIB
PERMUKIMAN : Pola permukiman di Desa Adat Pengotan dari atas yang menunjukkan sangat tertata. Bangunan angkul-angkul  diyakini menyaring energi negatif.
PERMUKIMAN : Pola permukiman di Desa Adat Pengotan dari atas yang menunjukkan sangat tertata. Bangunan angkul-angkul diyakini menyaring energi negatif.
BANGLI, BALI EXPRESS-Desa Adat Pengotan, Bangli memiliki pola permukiman yang memanjang dari utara ke selatan. Sebagai Desa Bali Aga, desa ini  menganut konsep hulu-teben untuk pembangunan rumah dan pengaturan tata ruang.

Jika dilihat secara seksama, permukiman Desa Adat Pengotan sangat tertata rapi. Apalagi dilihat dari sisi udara,  tampak begitu terpola. Terdapat jalan bercabang atau gang dari jalan utama ke arah kanan dan kiri untuk menuju rumah-rumah yang dibangun berjajar.

Rumah-rumah yang dibangun berjajar dan berkelompok itu memiliki istilah yaitu jejer wayang. Setiap kelompok rumah tersebut terdiri dari 6 sampai 10 rumah.

Bendesa Adat Pengotan Wayan Kencu mengatakan pekarangan rumah terdapat tiga bagian, yaitu areal hulu, tengah, dan teben. Saat mulai memasuki kawasan rumah tradisional, pertama-tama pada areal teben terlihat sebuah angkul-angkul menyambut kedatangan orang yang berkunjung ke rumah tersebut.

Angkul-angkul berupa tembok dan pintu masuk berisi penutup atas atau atap kecil yang mengarah ke pekarangan rumah. Terkadang ditemukan juga bangunan lumbung di areal teben beberapa rumah. Toilet juga demikian.

Lalu pada areal tengah terdapat dua bangunan saling berhadapan, yaitu bale adat yang menghadap ke utara dan Uma Meten yang menghadap ke selatan.

Di bagian utara adalah areal hulu. Yaitu tempat keberadaan sanggah atau sebuah ruang yang paling disucikan di setiap pekarangan rumah adat.

Angkul-angkul terletak di ujung selatan barat yang disebut areal nista atau areal teben pekarangan rumah. Gerbang masuk menuju pekarangan rumah tradisional Desa Pengotan, lurus berhadapan dengan pintu masuk area sanggah.

“Angkul-angkul diyakini sebagai penyaring energi-energi yang masuk ke dalam pekarangan rumah. Masuknya energi negatif yang seringkali membuat suasana tidak nyaman menjadi tersaring karena melewati bangunan angkul-angkul,” jelas Kencu.

Kemudian ada juga bale adat yang disebut juga sebagai Bale Sakenem. Bale ini merupakan sebuah bangunan berbentuk segi empat menghadap ke utara berhadapan dengan Uma Meten. Dindingnya dari anyaman bambu atau sering disebut bedeg.

Bangunan bale adat dibentuk sedemikian rupa menyesuaikan udara lingkungan sekitar yang cenderung sejuk. Ruang dalam bangunan bale adat terdapat bale yang terbuat dari kayu. Bale yang berada di dalam tersebut memiliki tiang atau saka yang berjumlah enam. Maka dari itu disebut juga Bale Sakenem. Pada bagian tiang menggunakan kayu nangka, kayu dis atau kayu jempinis.

Bale adat juga digunakan pada saat upacara kawin massal yang menjadi salah satu tradisi yang masih lestari di desa itu.

Bangunan bale adat digunakan untuk mempersiapkan banten dan beberapa kelengkapan lainnya. Bale adat juga sebagai tempat berdiam pengantin pria sembari menunggu hingga tiba saatnya menjemput pengantin wanita yang berdiam pada Uma Meten.

Dikatakan Kencu, pengantin pria mempersiapkan diri untuk menjemput calon istri dan memakai perlengkapan di dalam bale adat. Salah satunya adalah memasang keris di punggung mereka yang nantinya digunakan untuk membuka pintu bangunan Uma Meten dan menjemput pengantin wanita.

Pada saat Ngaben massal bangunan bale adat memiliki fungsi utama. Upacara Ngaben massal sepenuhnya dilaksanakan di bangunan bale adat. Mulai dari mempersiapkan banten untuk persembahan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa hingga proses upacara dilaksanakan.

Selain itu, terdapat upacara lainnya yang dilaksanakan di bangunan ini. Upacara tersebut ialah matelah atau mawinten yang merupakan upacara pembersihan ketika seseorang yang terpilih menjadi orang suci. Matelah dilaksanakan pada saat hari lahir atau oton orang tersebut yang akan melaksanakan upacara. Lalu ada pula upacara potong gigi (mepandes).

Bangunan Uma Meten terletak berhadapan dengan bale adat. Ukuran bangunan ini lebih besar dan lebih tinggi dibandingkan bangunan bale adat. Berbentuk segi empat, berdinding bedeg. Pada awalnya beratap bilah-bilah bambu yang disusun membentuk prisma segitiga.

Pada bagian teras Uma Meten terdapat dua buah lincak atau bale yang terletak di luar. Lincak terbuat dari bambu disusun membentuk segi empat, lalu bambu yang berukuran lebih besar menjadi bagian pinggir. Lincak dibentuk serupa sebelah kanan dan kiri, lalu terdapat pintu di tengah untuk masuk ke dalam bangunan Uma Meten.

“Bangunan Uma Meten juga digunakan saat upacara kawin massal. Penggunaan Uma Meten pada upacara kawin massal ialah untuk tempat berdiam pengantin wanita saat menunggu pengantin pria menjemput untuk dibawa ke Pura Penataran Agung.

Pada pelaksanaan upacara perkawinan massal, banten untuk persembahan diletakkan dalam bangunan Uma Meten ini, yaitu pada bale yang terletak di sebelah timur. Sedangkan bale yang terletak di sebelah barat dapat digunakan untuk duduk atau tidur.

Uma Meten  Dibatasi Jalikan

Pada bagian dalam Uma Meten, bale yang berada di sisi kanan dan sisi kiri dipisahkan oleh sebuah tungku perapian atau sering disebut dengan Jalikan. Jalikan ini berfungsi sebagai penghangat ruangan.

Wayan Kencu mengatakan bahwa selain sebagai tempat menyalakan api untuk penghangat, Jalikan berfungsi sebagai tungku khusus memasak untuk persembahan Ida Betara Sakti Pingit (abu suci Ratu Sakalindhu Kirana, Prasasti Pengotan, dan Penara Pitu).

Photo
Photo
KAWIN MASSAL : Ritual kawin massal di Desa Adat Pengotan menggunakan Bale Adat dan Uma Meten.

Makanan yang telah dimasak pada jalikan tidak diperbolehkan dibawa keluar bangunan Uma Meten, agar tidak terkontaminasi dengan energi luar. Maka dari itu, sangatlah cocok di dalam bangunan Uma Meten terdapat paon. Sehingga makanan yang telah dimasak dapat langsung diletakkan pada bale sebelah timur sebagai persembahan.

Pada bale sebelah kiri di dalam bangunan ini, pada saat ada yang meninggal dunia dapat juga berfungsi sebagai tempat meletakkan jenazah.

Jenazah ditutup menggunakan kain batik dan diberi sesaji sebelum dibawa ke natah memanjang untuk dimandikan oleh krama pangarep dan dipimpin oleh Jero Senggu.

Jenazah yang boleh ditempatkan di bale sebelah kiri adalah jenazah yang meninggal secara wajar karena faktor umur atau penyakit tertentu.“Sedangkan Sanggah menjadi tempat yang paling disucikan di suatu pekarangan rumah adat terletak paling utara pada ruang terbuka. Pada area sanggah tersebut terdapat beberapa buah palinggih yang dibuat sederhana menggunakan kayu dan bambu,” ungkap Kencu.

  Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#bali #Pola Permukiman di Desa Adat Pengotan #Bale Adat dan Uma Meten #balinese #hindu #pura #Pekarangan Dibagi Tiga #Angkul-Angkul Jadi Penyaring Energi Negatif