Menurut Klian Banjar Pegubugan I Wayan Mudiasa, prosesi tersebut sudah diwariskan oleh pendahulu di sana. Itu sudah berlangsung sejak lama. “Dari tetua saya sudah ada seperti itu. Kami melestarikan di sini,” ujar Mudiasa, Jumat (26/5).
Meski telah menjadi tradisi, diakuinya, ada saja jenazah yang tidak diarak. Tergantung keluarganya. Namun demikian ia memastikan kebanyakan warga di sana melakukan prosesi tersebut. “Tergantung keluarga yang memiliki kematian, tapi kebanyakan melakukan pengarakan,” ungkapnya.
Proses pengarakan tersebut dilakukan dengan cara berbeda-beda. Tergantung keluarga yang bersangkutan. Ada yang mulai dari ketika keluar rumah, ada pula yang baru mendekati kuburan banjar setempat.
Prosesi itu pun membuat Mudiasa dilema. Pasalnya, ketika beredar video prosesi tersebut di media sosial, memantik tanggapan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Pasalnya terkesan kurang etis, namun seperti.itulah tradisi. “Kalau tidak diberikan (upload video), warga ingin memperlihatkan tradisi di sini. Kalau saya larang, nanti saya dipojokkan. Tapi kami tetap melestarikan ini,” tegasnya, tanpa merinci makna tradisi itu. (dir)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya