Tumpek sangat erat kaitannya dengan Kalender Hindu di Bali yang merupakan gabungan dari Caka Surya Pramana dan Chandra Pramana serta Wuku yang kita kenal sebanyak tiga puluh wuku. Selain wuku ada juga siklus lain yaitu Saptawara dan Pancawara. Sehingga antara Saptawara terakhir yaitu Saniscara bertemu dengan Pancawara terakhir (kliwon ), maka siklus disebut tumpek, yang datangnya setiap 35 hari sekali.
Tumpek akan bertemu setiap akhir wuku Saniscara (Saptawara ) dan akhir Pancawara Kliwon. Inilah yang kemudian disebut denga awal dan akhir. Dalam istilah Hindu disebut Utpeti, Stiti dan Prelina, yang kemudian diambilah Utpeti dan Prelina (Tum-Pek ) yang artinya mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta dengan jalan mensyukuri segala ciptaannya, baik yang kita nikmati secara langsung maupun tidak langsung.
Tumpek Landep diyakini sebagai hari turunnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Pasupati, yaitu Dewa yang berkuasa atas segala jenis senjata atau alat-alat yang terbuat dari logam.
Melansir dari berbagai sumber, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika mengatakan, makna secara filosofis dari arti tajam adalah pikiran atau Landeping idep. Sehingga yang dipertajam adalah pemahaman, wawasan dan pengetahuan agar tetap diasah dengan belajar.
Peringatan Tumpek Landep ini mengandung makna bahwa manusia harus selalu sadar untuk mengasah ketajaman batinnya. Diharapkan dengan ketajaman batin tersebut akan terbangun sifat dan sikap hidup yang peka terhadap berbagai persoalan kemanusiaan.
Ketajaman pikiran diartikan sebagai sebuah penghayatan agar dapat berjalan pada jalan yang benar. Dalam implementasinya, umat Hindu di Bali merayakan Tumpek Landep dengan membuatkan upacara untuk berbagai macam pusaka warisan para leluhur yang dikeramatkan. Seperti keris,tumbak, pisau, sabit, dan senjata lainnya.
Sementara itu, Menurut Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa, Tumpek Landep adalah saat yang tepat bagi mereka yang ingin nunas penganugerahan pada benda-benda pusaka dan juga bagi mereka yang mendalami tatwa. “Hari yang bagus bagi yang ingin nunas energi untuk mapasupati pusaka,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group). Editor : Nyoman Suarna