Salah satunya Jero Putu Sudana. Saat ini ia sudah berumur 65 tahun. Terbilang umur yang sudah cukup tua untuk menggeluti pekerjaan sebagai perajin bokor.
Kendati demikian, saat ditemui di rumahnya ia masih terlihat energik dan cekatan dalam mengayunkan palu pada pahat kecilnya untuk mengukir ukiran-ukiran kecil di bokor yang dibuatnya.
Bokor buatan Desa Beratan Samayaji umumnya disebut dengan bokor slaka (perak). Slaka kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti perak. Jadi penyebutan tersebut merupakan representasi dari bahan dasar yang digunakan yaitu perak.
Sayangnya, karena harga bahan dasar perak lumayan mahal, maka para perajin bokor biasanya menggunakan kuningan juga sebagai bahan dasar yang kemudian akan disepuh menggunakan cairan perak. Sepuh sendiri terbuat dari campuran air keras, potasium dan logam mulia berupa perak.
Ia menceritakan bahwa dirinya telah belajar membuat bokor sejak masih duduk di bangku SMA. Hanya saja, aktivitasnya ini pernah berhenti sejenak karena menunaikan pekerjaan sebagai PNS di Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng.
“Setelah saya tamat SMA, saya langsung diterima kerja di Disdikpora Kabupaten Buleleng, sehingga pekerjaan sebagai perajin hanya saya jadikan sebagai sampingan. Namun setelah pensiun, saya akhirnya menggeluti pekerjaan ini secara penuh” jelasnya.
Sementara itu dalam membuat kerajinan bokor slaka ia masih menggunakan cara-cara yang masih tradisional dalam proses pembuatannya. Bahkan ia masih menggunakan mesin pemanas yang masih digerakkan secara manual dengan cara dipompa untuk mencairkan bahan dasar logam yang dipakai.
Bokor buatan desa ini harganya bervariasi, disesuaikan dengan ukuran dan bahannya. Apabila menggunakan bahan dasar kuningan satu buah bokor dibanderol mulai Rp 300 ribu-Rp 350 ribu.
Bila menggunakan perak sebagai bahan dasarnya itu hargannya relatif lebih mahal tergantung dari besar kecilnya, bahkan bisa tembus harga jutaan.
Biasanya dalam membuat sebuah bokor, bisa menghabiskan waktu selama 5-6 hari pengerjaan. Selain membuat bokor ia juga mahir mengerjakan perabotan lainnya seperti sangku, saab, lepekan, cangkir, serta dulang.
Di sisi lain, Ngurah Wedana memiliki kekhawatiran yang besar terkait dengan belum adanya regenerasi perajin di desanya. Hal ini dikarenakan generasi muda khususnya lebih memilih untuk mencari pekerjaan di bidang lain seperti pariwisata ataupun perkantoran. “Pemerintah sudah pernah melakukan pelatihan di Desa Beratan terutama untuk kerajinan perak dan emas. Sedangkan untuk kerajinan kain songket belum terlaksana,” katanya.
Selain itu, dirinya juga sudah melakukan upaya lainnya yaitu dengan pendekatan ke pemerintah yang memang menangani warisan budaya terutama, Dinas Kebudayaan, kemudian Dinas Perdagangan dan Perindustrian yang selalu intens mensosialisasikan pentingnya pelestarian budaya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya