Bupati Suwirta berharap pameran keris dan benda pusaka ini bisa mencerminkan serta 'meruncingkan' pikiran agar apa yang dilakukan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan bisa dilaksanakan dengan baik. “Pameran pusaka ini juga mempertontonkan apa yang menjadi warisan yang perlu diabadikan dan diberitahukan kepada generasi kita,” kata Suwirta.
Lebih lanjut, dengan pameran ini bisa memperbanyak inovasi keris dan memperkaya koleksi sebagai senjata dan benda yang disakralkan. “Ayo masyarakat yang ingin melihat koleksi keris silakan datang ke Museum Semarajaya,” ajak Suwirta
Sekretaris Dinas Kebudayaan I Nengah Udayana mengatakan pameran ini diselenggarakan sesuai Instruksi Gubernur Bali Nomor 5 Tahun 2023 tentang Perayaan Tumpek Landep dengan upacara Jana Kerthi.
Upacara Tumpek Landep dengan upacara Jana Kerthi sebagai pelaksanaan tata titi kehidupan masyarakat Bali berdasarkan nilai kearifan lokal Sad Kerthi dalam Era Bali Baru, baik secara niskala maupun sekala.
Museum Semarajaya memiliki koleksi 28 keris dan tombak. “Kami juga memberikan kepada masyarakat untuk memamerkan hingg 60 keris yang dipamerkan. Pameran dilaksanakan mulai Sabtu (hari ini) setelah upacara Tumpek Landep dan keris langsung diupacarai pada saat Tumpek Landep,” ujarnya.
Jenis keris yang dipamerkan yaitu keris luk dan keris lurus dengan beragam jenis sesuai dengan wangun keris. “Keris yang paling banyak luk nya 35, dipercaya keris ini hanya bisa dipegang oleh para pemimpin seperti raja,” ungkapnya.
Selain pembukaan pameran keris, kemarin juga diisi dengan penyerahan penghargaan Seni Smara Langottama kepada seniman drama gong I Wayan Tembau Kariasa, seniman tari I Ketut Sumantra, sastrawan Ketut Dapet Sujasa dan I Made Subitra. (nan) Editor : I Komang Gede Doktrinaya