Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Banjar Nyawah Laksanakan Ngaben Massal Setiap 5 Tahun

I Made Mertawan • Rabu, 21 Juni 2023 | 02:39 WIB
NGABEN MASSAL:  Melaspas wewangunan sebagai salah satu rangkaian Ngaben massal di Banjar Adat Nyawah, Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli, Minggu 18 Juni 2023.
NGABEN MASSAL: Melaspas wewangunan sebagai salah satu rangkaian Ngaben massal di Banjar Adat Nyawah, Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli, Minggu 18 Juni 2023.

BANGLI, BALI EXPRESS- Ngaben massal kini menjadi alternatif umat Hindu di Bali. Tak terkecuali di Banjar Adat Nyawah, Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli. Banjar ini melaksanakan Ngaben massal yang puncaknya Rabu 21 Juni 2023.

Ngaben massal di banjar ini secara terjadwal setiap 5 tahun sekali. Ketua Panitia Ngaben massal tahun ini, I Nyoman Katos mengatakan Ngaben massal di Nyawah dilaksanakan untuk meringankan beban krama Hindu di banjarnya, khususnya dari sisi biaya. Sebab, selain biaya yang ditanggung bersama-sama dengan yang lain, Ngaben massal di Bangli  juga bisa mendapatkan bantuan dari Pemkab Bangli. 

Katos mengatakan, jika Ngaben secara mandiri, biaya yang dibutuhkan kisaran Rp 40-50 juta. Itu belum sampai tahapan Ngeroras.  “Kalau sampai Ngeroras, uang Rp 100 juta bisa habis. Tergantung tingkatan upacaranya,” kata Katos ditemui di sela-sela persiapan Ngaben massal di Nyawah pada Minggu 18 Juni 2023. “Dengan Ngaben massal, krama yang akan mengupacarai sawa itu keluar biaya sekitar Rp 15 juta,” sambungnya.

Selain lebih irit dan tidak mengurangi makna, Ngaben massal ini juga sebagai bentuk kebersamaan, mempererat persaudaraan termasuk meringankan dari sisi tenaga untuk persiapan upacara.  Sebab krama gotong royong mempersiapkan segala kebutuhan upacara. Disebutkan bapak dua anak ini, sebanyak 23 sawa diupacarai pada Ngaben massal tahun ini, kemudian 50 orang ikut matatah atau mapandes. “Tahun ini dilaksanakan Ngaben, Matatah dan Ngeroras.  Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini merupakan yang ketiga,” tegas mantan klian Banjar Adat Nyawah ini.

Ia mengakui bahwa sejauh ini tidak ada aturan tertulis yang mengatur soal upacara Pitra Yadnya massal tersebut. Namun sebagian besar krama setempat memilih mengikutinya. Terkecuali mereka yang begitu meninggal memang harus langsung Ngaben, baru pihak keluarga akan melaksanakan secara mandiri. Misalnya pamangku. “Sejauh ini tidak ada aturan tertulis, tapi masing-masing dadia yang ada di banjar kami memang sudah ada kesepakatan di internalnya agar ikut Ngaben massal yang dilaksanakan oleh banjar adat,” pungkas Katos. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #ngaben #bangli #hindu