Setiap Tilem Sasih Kedasa, atau sebulan setelah Hari Raya Nyepi Krama Desa Adat Manggis, Kecamatan Manggis, Karangasem rutin menggelar tradisi Ngemumu. Ritual yang dilaksanakan pada sore hari dengan membakar danyuh (daun kelapa kering) dilakukan sembari berjalan kaki menuju Pura dalem untuk menetralisir energi negatif. Ini merupakan salah satu tradisi Bali penganut agama Hindu yang masih bertahan hingga kini.
Bendesa Adat Manggis, I Wayan Reni menjelaskan, Tradisi Ngemumu ini berasal dari kata Mumuan. Mumuan ini merupakan daun kelapa kering yang kemudian dirangkai sedemikian rupa sehingga dijadikan sarana utama saat ngemumu.
Dikatakan I Wayan Reni, Ngemumu ini sudah dijalankan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Ngemumu juga bertujuan untuk menyomia Bhuta Kala sehingga menetralisir energi negatif.
Prosesi tradisi Ngemumu diawali dengan dibentuknya kepanitiaan di masing-masing banjar yang disepakati oleh Krama yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Di Desa Adat Manggis, setidaknya terdapat 14 Banjar Adat.
“Kemudian dilanjutkan dengan menghaturkan Banten Sodaan di Pura Prajapati bertujuan sebagai penghormatan kepada orang yang sudah meninggal tetapi belum diaben atau diupacarai sebelum masyarakat Desa Pakraman Manggis melaksanakan Upacara Usaba Dalem,” jelasnya.
Sarana yang dipersembahkan pada banten sodaan ini seperti sesayut, tumpeng, menyan, kastanggi, telur, jajan, buah, nasi pangkon, kacang, daksina tabah rayunan putih kuning, segehan, canang burat wangi.
Selanjutnya pembuatan Obor atau mumuan memiliki aturan khusus. Pertama yang harus dipersiapkan ialah bambu sepanjang 3 (tiga) meter, Daun kelapa kering (Danyuh) yang sudah dipisahkan dari papahnya (meles-les), Daun andong, dan Bakang-bakang, Tali tutus.
Daun kelapa kering diikat kering kurang lebih satu cekal pada bambu, ujung daun menghadap ke atas. Kemudian ikat dengan tali, diikatan kedua ambil dua cekal daun kelapa kering, ujung daun menghadap ke bawah.
Ikatan ketiga ambil tiga cekal daun kelapa kering, bagian ujung daun menghadap ke bawah. Ikatan keempat ambil empat cekal daun kelapa kering, ujung daun menghadap ke bawah, ikatan keempat merupakan ikatan terakhir, ujung daun kelapa kering di rapikan dan dihiasi dengan daun andong, dan bakang-bakang.
Ia menambahkan, seluruh proses pelaksanaan Tradisi Ngemumu dilaksanakan di Desa Adat Manggis, dan Usaba Dalem dilaksanakan di Pura Dalem. Pelaksanaan tradisi Ngemumu dimulai dengan Mengumpulkan Obor krama Desa Adat Manggis
Dilanjutkan dengan mempersiapkan obor yang akan di arak menuju Pura Dalem di masing-masing banjar pada pukul 17.00 wita. Pada saat selesai mepekeling di Pura Prajapati. Setelah itu dilanjutkan dengan Nyahsahang Obor (menaruh obor dibawah) pada pukul 17.30 wita.
Pada proses ini Krama Desa Adat Manggis sudah semuanya berkumpul dan sudah siap melakukan proses pembakaran obor. Semua obor diletakan di bawah dan yang paling ujung desa memulai pembakaran, obor yang lain menunggu untuk meminta api ke obor yang lain.
“Semua baik tua muda, anak-anak orang dewasa ikut membawa obor untuk meramaikan tradisi Ngemumu ini,” imbuhnya.
Usai terkumpul barulah dilakukan prosesi menyalakan obor pada saat pukul 18.00 wita (Sandikala). Begitu Kul-kul banjar sudah berbunyi, maka masyarakat Desa Adat Manggis mulai menyalakan obor.
Uniknya, obor ini diyalakan dengan cara yang berbeda. Hanya satu buah yang obor dinyalakan dengan menggunakan korek api. Begitu menyala, maka obor yang lain kemudian dinyalakan dengan obor yang sudah menyala tersebut.
Ngemumu diikuti oleh masyarakat Desa Adat Manggis dengan penuh suka cita dan penuh kegembiraan. Kobaran api yang sangat besar membuat Desa Adat Manggis terlihat amat terang sepanjang jalan.
Sesampainya di setra, krama juga langsung membakar Sampah Setra sembari melakukan pembersihan kuburan. Sampah-sampah dibakar dengan menggunakan bobok obor Ngemumu. Prosesi ini berlangsung dari pukul 19.00 malam sampai selesai.
“Usai membakar sampah dan membersihkan areal setra, maka dilanjutkan dengan melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Prajapati,” paparnya.
Editor : I Putu Suyatra