BALI EXPRESS - Setiap selesai pujawali yang dilaksanakan Desa Adat Bukih, Desa Belancan, Kecamatan Kintamani, Bangli, para daa truna bersama paduluan desa melakukan prosesi ngaasin. Tradisi Hindu di Bali ini sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran karya dengan membagikan lungsuran atau sesajen yang sudah dipersembahkan.
Tokoh masyarakat Bukih, Ketut Taram menjelaskan, kata ngaasin dimaknai merontokan atau menaruh lungsuran (hasil sesajen) dalam suatu wadah. Ngaasin sebagai bentuk terimakasih kepada pangayah dalam upacara atau ngusaba yang dilaksanakan di Desa Adat Bukih
Pangayah yang dimaksudkan disini adalah daa truna serta paduluan desa. Bentuk ucapan terimakasih adalah ketika dilaksanakannya dudunan upacara panyineban setiap ngusaba. Para krama dengan arahan bendesa adat memberikan lungsuran kepada anggota daa truna dan paduluan desa dengan cara dikumpulkan dalam suatu tempat dan beberapa wadah.
Bentuk ucapan terimakasih dan syukur ini karena daa truna dan paduluan desa merupakan ujung tombak setiap ngusabha yang senantiasa ngayah dari persiapan seperti membuat penjor, mamasang ider-ider, ngiasin, makemit, mareresik, menyajikan bhoga samatra, nganyarin, ngrugas, ngayah nyojor (baris), rejang. Peran inilah yang membuat acara ngusaba menjadi tuntas.
“Begitu beratnya tanggungjawab serta ayahan dari daa truna dan paduluan desa di setiap ngusba. Sehingga munculah tradisi ngaasin ini, sebagai bentuk terimaksi,” katanya
Lungsuran yang telah terkumul selanjutnya diberikan terlebih dahulu kepada paduluan desa yang ingin mengambilnya baik berupa buah, jajan, atau yang lainnya. Jika setelah paduluan desa mengambil sekiranya, selanjutnya diserahkan kepada daa truna.
Daa truna biasanya mengambil lungsuran langsung untuk dimakan di tempat. Kemudian sisanya dijadikan sebagai malang yang dibagikan kepada setiap anggota, baik yang hadir maupun yang tidak.
Dalam tradisi ngaasin daa truna dan prajuru desa yang melaksanakan kewajibannya untuk ayah-ayah mendapatkan beberapa hak. Diantaranya mendapatkan hasil ngaasin yang berupa lungsuran seperti jajan, buah-buahan, minuman yang dihaturkan krama. Sehingga mereka memperoleh hak berupa kawes.
Daa truna sebut Ketut Taram sebagai garda terdepan dalam melaksanakan setiap upacara memiliki tugas ngaturang ayah. Selanjutnya prajuru desa bertanggungjawab untuk mengonsep setiap upacara, mengkordinir krama desa untuk melaksanakan ayah-ayah, ngaturang bhakti (banten) krama, dan sebagainya,
“Sedangkan untuk krama desa selain meiliki tanggung jawab sembahyang juga memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan ayah-ayahan sesuai dengan beban kerja yang telah diatur oleh prajuru desa,” tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra