BALI EXPRESS- Upacara Ngaben di Bebali, Desa Brembeng, Kecamatan Selemadeg, Tabanan diiringi dengan pementasan Tari Baris Dadap. Mereka menari sambil menyanyi. Syairnya pun secara turun-temurun.
Para penari menyanyi sesuai dengan pakem yang telah mereka terima dari generasi ke generasi. Adapun syair yang dibawakan pada bagian I (jejer wayang) yaitu: Setindak ndak menoleh Beber bidak Biin pidan jantu melayar Camplung wangle Busung buying tangisi Jong mengumbang sampaning ulattiswan Gempuk gembal pangrumrum ngardo jingo Durus kung Mregal natanyo.
Baca Juga: Cuaca Tak Bersahabat, Fast Boat di Padangbai Terapkan Buka Tutup
Artinya: Ke arah mana akan berjalan Menyeberang bidak atau berlayar Kapan mau menghanyutkan (membuang) abu jenazah Sudah pasti di-geseng (dipralina/dibakar) Tidak usah ditangisi supaya angen dengan yadnya Kapan akan dibuang (di-labuh).
Sesepuh atau panglingsir yang memahami mengenai silsilah Tari Baris Dadap di Banjar Bebali, I Ketut Suparwatha megatakan bahwa untuk dapat menyatu dengan asalnya, maka diadakan upacara Ngaben. Dalam kepercayaan Hindu Bali badan kasar manusia berasal dari unsur panca maha bhuta.
Untuk itu, jenazah di Bali dibakar dengan harapan yang berasal dari api kembali ke api, yang berasal dari tanah kembali ke tanah, yang berasal dari udara kembali ke udara, dan yang berasal dari air akan kembali pula ke air. Setelah jenazah dibakar, abunya dihanyutkan ke laut dengan harapan semuanya dapat menyatu kembali dengan asalnya. Tari Baris Dadap dipentaskan setelah upacara ngulapin ke kuburan (setra) yaitu dengan mengambil tanah di atas pusara makam yang akan diaben.
“Tanah tersebut dibungkus dengan daun dadap kemudian disimpan di pengawak (sekah) sebagai simbol dari jasad yang akan diupacarai. Sekah tersebut kemudian dibawa ke rumah dan ditempatkan di bale,” tutupnya. (*)
Editor : I Made Mertawan