Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Busana Unik Tari Rejang Desa Pedawa

I Putu Mardika • Selasa, 4 Juli 2023 | 03:07 WIB
TARI BALI: Tari Rejang Desa Pedawa yang dipentaskan saat Saba di Pedawa.
TARI BALI: Tari Rejang Desa Pedawa yang dipentaskan saat Saba di Pedawa.

BALI EXPRESS - Busana pokok tari rejang Desa Pedawa, Buleleng, Bali, ini adalah kain rembang berupa syal yang menjadi penutup dada dan juga selendang. Penggunaan kain rembang diartikan sebagai lamak yang merupakan lambang pijakan hidup.

Pada bagian kepala penari menggunakan seropong yaitu mahkota yang terbuat dari janur kelapa dan dihiasi bunga segar mahkota ini berbentuk trapesium. Selanjutnya pada hiasan kepala juga terdapat Sekar taji berbahan dasar pelendo berjumlah ganjil antara lima, tujuh atau Sembilan dan tambahan bunga emas.

Bagian depan dari hiasan kepala terdapat belengker atau sejenis mahkota yang berwarna emas dengan hiasan bunga gempolan atau bunga yang tersusun rapi yang terdiri dari bunga kamboja (jepun), kenanga dan bunga sepatu.

Pada bagian bawah menggunakan kamenatau kain yang biasa digunakan. Biasanya menggunakan kain bebali seperti kain songket, tenun endek maupun batik, sesuai dengan kemampuan pribadi penari.

Prajuru Adat Pedawa, Wayan Sukrata mengatakan, keberlangsungan tari rejang Desa Pedawa ini dapat dilihat dari pelaksanaan Saba di Desa Pedawa yang tidak lepas keterkaitannya dengan beberapa satuan kemasyarakatan lain seperti lembaga desa adat, organisasi karang taruna (Sekaa Truna Truni), sistem Daa, serta sekaa baleganjur Desa Pedawa.

Semua komponen organisasi masyarakat ini menjadi penting dalam keberlangsungan tari rejang karena tari ini merupakan tari wajib yang harus dipentaskan jika ada pelaksanaan saba. Saba merupakan sebuah acara pemujaan kepada Ida Sesuhunan di Pedaawa.

Saba Malunin merupakan suatu Upacara Dewa Yadnya di Pura Pedawa, dimana pada saat melaksanakan persembahyangan menggunakan Banten Balun, Banten Balun yaitu Banten Lungguh.

“Banten Lungguh adalah persembahan dari warga yang sudah bersuami istri dan mempunyai keturunan yang masih muda,” katanya.

Banten yang biasanya dalam masyarakat bali menggunakan tempat banten yang sering disebut dengan istilah sokasi yang akan dihaturkan tetapi di Saba Malunin ini menggunakan daun pisang, daun pandan dan kelatkat, sebagai tempat untuk menghanturkan banten.

Kelatkat yang digunakan tidak sembarang kelatkat, kelatkat yang digunakan harus berasal dari Desa Pedawa sendiri. Banten ini dipersembahkan di Pura Kemulan Puseh bingin. Dalam pelaksanaan saba ini seluruh komponen masyarakat akan terlibat sehingga jika saba ini tidak terlaksana maka tari rejang Desa Pedawa pun tidak dapat dipentaskan.

“Keberlangsungan tari rejang Desa Pedawa tergantung pada pelaksanaan saba, karena salah satu kewajiban dari daa adalah menarikan tari rejang pada saat saba,” tutupnya.

Editor : I Putu Suyatra
#desa pedawa #bali #Tari Rejang #buleleng