BALI EXPRESS - Tradisi Megibung memang hampir ditemukan di desa-desa Kabupaten Karangasem. Hanya saja, aturan megibung setiap desa rata-rata memiliki persamaan dan perbedaan. Tak terkecuali Megibung di Desa Adat Budakeling, Kecamatan Bebandem yang memiliki pakem tertentu untuk dilaksanakan.
Seperti diketahui, tradisi Megibung ini diperkirakan sudah ada sejak zaman pemerintahan Raja Karangasem sejak abad XVII. Konon tradisi ini sebagai salah satu cara untuk menyatukan kekompakan para prajurit di tengah kondisi perang.
Pengelingsir Desa Budakeling Ida Wayan Jelantik Oyo menjelaskan, bahwa megibung oleh masyarakat Desa Budakeling biasanya dilaksanakan pada saat upacara panca yadnya terkhusus. Seperti upacara manusa yadnya, dewa yadnya, dan pitra yadnya.
Pelaksanaannya diselipkan pada saat acara meebat mempersiapkan sarana upakara berupa boga yang telah diolah sedemikian rupa sesuai dengan yadnya yang sedang dilakukan. Setelah meebat sang manggala karya akan menyediakan gibungan sebagai tanda hormat dan terimakasih atas bantuannya dalam menyukseskan yadnya yang dibuatnya.
“Megibung ini menjadi satu kesatuan dengan pelaksanaan yadnya bukan suatu tradisi yang terpisah dan kebetulan diadakan pada saat pelaksanaan yadnya,” katanya.
Ia menjelaskan, ada sejumlah pakem atau tata cara pelaksanaan megibung di Desa Budakeling. Pertama, tradisi Megibung dipimpin oleh satu orang yang bertugas untuk mengatur dan memimpin jalannya megibung dalam satu kelompok, biasanya dipilih berdasarkan umur.
“Jadi yang paling dewasa dalam kelompok otomatis bisa memimpin gibungan. Pemimpin gibungan tidak terbatas pada kalangan wangsa tertentu,” ungkapnya.
Pada satu kelompok terdiri dari 5-7 orang selalu dalam jumlah ganjil, dengan perpaduan dari catur wangsa. Makanan yang disajikan disebut gibungan, yang terdiri dari sekar gibungan yang merupakan lauk-pauk berupa lawar putih, lawar merah, lawar gadang, timbungan babi/ayam/bebek, pesan les, sate lilit/pusut, sate babi, dan jukut ares/nangka.
Jika dirinci, Menu Lawar putih terbuat dari campuran daging babi, kelapa yang diparut, dan base genep sedangkan lawar merah adalah lawar putih yang ditambahkan darah babi. Lawar gadang atau yang berarti lawar hijau merupakan lawar yang terbuat dari daun belimbing, kelapa, dan base genep.
Kemudian ada menu Timbungan yang merupakan olahan daging berkuah dengan base genep. Olahan daging yang digunakan pun juga sangat beragam. Mulai dari daging babi, ayam, bebek, dan angsa.
Dalam menu gibungan, ada juga Pesan les yang merupakan olahan berupa pepes yang berbahan dasar kepala babi yang diberikan bumbu sedemikian rupa kemudian dibakar dengan arang dan dibungkus daun pisang.
Sate lilit/pusut merupakan sate yang terbuat dari daging babi atau ikan yang dibumbui dengan base genep kemudian dibakar menggunakan arang, untuk tusukannya menggunakan bambu yang telah dibentuk sedemikian rupa.
Sate babi merupakan sate yang terbuat dari daging dan lemak babi yang dibumbui kemudian dibakar dengan proses yang sama dengan sate pusut. Selanjutnya Jukut Ares merupakan sayur yang terbuat dari batang pohon pisang dangsaba kemudian diolah menjadi sayur berkuah santan, demikian juga dengan sayur nangka yang berbeda hanyalah bahan dasarnya yakni buah nangka muda khusus untuk sayur.
Kemudian sela yang merupakan nasi putih berbentuk setengah lingkaran diletakkan di tempat gibungan yang berbentuk persegi/ lingkaran, lalu disetiap pojok diletakkan uyah tabia (garam dan cabai merah). Uyah tabia ini diperuntukan untuk orang yang suka dengan makanan pedas, karena pada dasarnya masakan yang disajikan memiliki tingkat kepedasan yang normal.
“Jadi pada saat megibung semua orang dapat menikmati makanannya sesuai dengan tingkat kepedasannya masing-masing. Terakhir ceret yang terbuat dari tanah liat sebagai tempat air putih dan tuak. Khusus tuak tidak diwajibkan untuk dikonsumsi semua orang karena tuak mengandung alkohol, biasanya yang meminumnya adalah kaum laki- laki yang dewasa,” ungkapnya.
Pemimpin tentukan Mulai Megibung
Meski makanan yang akan disantap sudah siap di depan mata, rupanya tidak serta merta langsung dimakan. Melainkan harus mendapat aba-aba dari pemimpin gibungan, saat tradisi Magibung akan dilaksanakan.
Ida Wayan Jelantik Oyo memaparkan, Pemimpin gibungan bertugas untuk menentukan kapan dimulainya sesi makan, memimpin doa, meletakkan lauk pauk pada sela gibungan sesuai dengan urutannya.
Seperti lawar- timbungan dan sayur- pesan- sate. Ia kemudian memanggil juru masak/gibung jika ada kekurangan nasi atau lauk, menentukan kapan megibung selesai dan membagikan minuman.
Peserta megibung dalam satu kelompok memiliki otoritas sendiri untuk menentukan kapan megibung itu dimulai dan diakhiri. “Pada satu kelompok tidak boleh ada yang mendahului makan ataupun mengakhiri makan tanpa seizin pemimpin gibungan,” sebutnya.
Jika salah satu sudah kenyang maka diperbolehkan untuk berhenti makan. Namun tidak boleh meninggalkan sela gibungan sampai seluruh anggota lainnya selesai makan. Pada saat makan tiap-tiap orang memiliki wilayah makannya masing-masing, tidak boleh mengambil jatah orang lain dan mencapur-adukkan lauk pauk.
Karena megibung dilakukan menggunakan tangan maka berkaitan dengan aspek kesehatan pada saat menyuap nasi jika ada yang tersisa tidak boleh diletakkan lagi di sela gibungan, melainkan diletakkan dibawah meja gibungan.
Ketika megibung sudah selesai maka kelompok tersebut bisa langsung meninggalkan sela gibungan, karena sudah ada yang bertugas sebagai pengayah gibungan untuk membersihkannya.
“Khusus untuk tamu undangan yang tidak mengonsumsi daging babi maka sang manggala karya akan menyiapkan hidangan non-babi secara terpisah namun untuk penyajiannya masih dalam bentuk gibungan dimana selama prosesi megibung akan dibantu atau didampingi oleh krama desa untuk menjelaskan bagaimana aturanaturan/tata cara megibung,” tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra