SINGARAJA, BALI EXPRESS - Desa Sudaji di Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali, juga memiliki tradisi Bukakak. Sama halnya dengan desa Giri Emas, yang juga menggunakan sarana babi diguling setengah matang. Tradisi Bali ini tetap bernafaskan Hindu.
Tradisi Bukakak dilakukan setiap tahun sebagai wujud syukur akan hasil panen. Khususnya untuk krama Subak di Desa Sudaji. Selain itu, tradisi ini juga sebagai upacara penutup Pujawali, dua hari setelah Purnama Kasa.
Tradisi sudah ada sejak lama dan dilaksanakan secara turun-temurun. Ada dua Bukakak di desa ini, yakni Bukakak Alit dan Bukakak Ageng. Bukakak Alit akan disiapkan dan diarak dari Pura Taman yang berada di Banjar Dukuh, Desa Sudaji menuju ke perempatan. Sedangkan untuk Bukakak Ageng dipersiapkan di Pura Desa Sudaji yang kemudian menyusul ke perempatan desa.
Bukakak sendiri merupakan babi guling yang dibakar setengah matang, kemudian diikat pada sanan bambu, yang selanjutnya diarak ke perempatan desa.
Babi yang dapat digunakan untuk Bukakak harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti memiliki bulu yang hitam legam dan tidak boleh ada cacat di bagian tubuhnya.
Pelaksanaan Bukakak ini dahulu sempat tidak dilaksanakan karena suatu hal, dan petani di desa ini mengalami gagal panen. Akibatnya, hasil panen yang biasanya digunakan untuk keperluan Pujawali tidak mencukupi.
Hal-hal buruk juga terjadi pada hasil panen. Seperti bulir padi banyak yang kosong hingga banyak hama menyerang lahan petani. “Dari pengalaman ini kami tidak berani lagi untuk tidak melaksanakan tradisi ini. Dalam situasi dan kondisi apapun tradisi ini harus dilakukan,” ujar Klian Adat Subak Dukuh, Desa Sudaji, Guru Jro Darsana.
Apabila situasi tidak memungkinkan, pelaksanaan tradisi ini dapat disiasati. Tradisi Bukakak tetap dilakukan dengan melibatkan beberapa orang saja tanpa mengurangi makna upacara. Bukakak hanya dilakukan oleh krama subak. “Saat ada virus Corona, larangan untuk membuat keramaian muncul. Kami tidak bisa melakukan tradisi ini secara riuh seperti biasanya. Jadi kami melakukannya dengan krama subak saja. Tradisi Bukakak memang tidak dilaksanakan secara terang-terangan di depan umum, dan tidak ada arak-arakan di perempatan desa. Akan tetapi, tradisi ini tetap dilakukan dengan cara hanya mengambil beberapa rentetan kegiatan yang sebisa mungkin tidak menimbulkan keramaian (kerumunan),” tutupnya.
Editor : I Putu Suyatra