TABANAN, BALI EXPRESS - Mendak Paica Ida Betara Segara di Pantai Pasut, Kecamatan Kerambitan Kabupaten Tabanan, merupakan salah satu ritual tahunan yang selalu dilakukan umat Hindu setempat setiap Purnama Sasih Kasa (bulan purnama yang jatuh pada bulan kasa atau bulan pertama dalam hitungan kalender Bali).
Ritual Mendak Paica Ida Betara Segara ini, menurut Ketut Arsana Yasa, salah seorang tokoh Nelayan di Pantai Pasut, merupakan salah atubritual yang sudah dilakukan secara rutin temurun.
"Mendak Paica segara ini, memang sudah ada sejak dulu, mungkin sudah dilakukan sejak berabad-abad yang lalu," jelasnya Minggu (9/7).
Pelaksanaan ritual ini, dijelaskan Arsana Yasa saat ini hanya dilakukan oleh nelayan di Pantai Pasut saja. Padahal sebelumnya, upacara ini, dilakukan oleh nelayan di Pantai Pasut, Pantai Kelating, Pantai Pulukan dan beberapa pantai yang ada disekitarnya.
Aktivitas ritual yang dilakukan dalam tradisi ini dijelaskannya hampir sama dengan aktivitas piodalan pada umumnya.
"Namun yang membedakan adalah, sebelum ritual pengodalan dilakukan, diawali dengan nunas paica (anugrah) dari Ida Betara Ratu Byang Sakti Segara di Pulukan, Pekutatan," terangnya.
Nunas Paica ke Pantai Pulukan ini dilakukan karena Pantai Pulukan dipercaya oleh nelayan di Pantai Pasut sebagai lokasi berstananya Ida Betara Ratu Byang Sakti Segara, yang merupakan dewi kemakmuran di laut yang dapat memberikan rejeki melimpah dan keselamatan bagi para nelayan saat melaut.
Selain melakukan ritual tersebut, upacara dilanjutkan dengan mulang caru (mapekelem) caru bebek hitam di Pantai Pasut.
"Tujuan dari pekelem bebek selem ini, adalah untuk.memberikan persembahan kepada buta kala yang ada di laut, supaya tidak menganggu nelayan kami ketika sedang melaut," tambahnya.
Sedangkan tujuan dari upacara Mendak Paica ini, untuk memanjatkan doa kepada Ida Betara Ratu Byang Sakti Segara agar dapat memberikan rejeki berupa tangkapan ikan yang melimpah dan nelayan selamat saat melaut.
Editor : I Putu Suyatra