Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali; Konsep Kiwa-Tengen dalam Rumah Adat Sukawana, Bale Saka Roras Tempat Rumah Tinggal

I Putu Mardika • Senin, 17 Juli 2023 | 14:33 WIB
Bendesa Adat Sukawana, Wayan Jasa
Bendesa Adat Sukawana, Wayan Jasa

BALI EXPRESS - Desa Adat Sukawana, Kecamatan Kintamani Bangli, Bali, memiliki pola pemukiman unik yang mengacu konsep Kiwa Tengen. Rumah adat ini juga memiliki nilai filosofis rwa bhineda (dalam Hindu; dua hal yang berbeda atau berlawanan, Red) dalam tata letaknya, sehingga menjadi ciri khas sebagai Desa Bali Aga.

Bendesa Adat Sukawana, Wayan Jasa menjelaskann konsep kiwa tengen dalam pola pemukiman di Desa Adat Sukawana telah diwariskan secara turun temurun. Pola ini menjadi identitas Desa Sukawana sebagai Desa Bali Aga di wilayah Kintanamni.

Konsepsi kiwa-tengen tersebut diterapkan pada penempatan bangunan rumah tinggal (bale sakaroras) yaitu bangunan di sisi kiri (kiwa) tapak dan sisi kanan (tengen) tapak rumah, dengan dilengkapi area tengah, bangunan suci pada area hulu-nya, dan area teben.

“Permukiman tradisional di Desa Sukawana ini sifatnya mengelompok. Tiap-tiap umah dadia berada pada area yang saling berdekatan. Dalam penataan umah dadia terdapat dua deret rumah yang disusun dengan memperhatikan hulu-teben dan orientasinya kaja-kelod (gunung-laut),” kata Wayan Jasa.

Uniknya, Area permukiman Desa Adat Sukawana mengacu pada lokasi bukit terdekat, sebagai area dataran tinggi yang dimaknai sebagai area sakral. Dataran tinggi itu yang dijadikan arah orientasi mereka. Bahkanb masyarakat disana menyebutnya munduk.

 “Dije munduke kemu arahne di mana bukit atau dataran yang tinggi berada, maka ke sanalah orientasi dari umah dadia,” imbuhnya.

Dataran tapak umah dadia yang lebih tinggi dimaknai sebagai area yang suci. Pada area inilah ditempatkan bangunan suci yang dinamai sanggah. Bangunan huniannya ini dikenal dengan nama bale sakaroras dan bale sakanem yang posisinya berada di daerah yang lebih rendah dari sanggah.

Ia menambahkan, dalam tapak umah dadia secara umumnya terdapat areal yang masing-masing dinamai sebagai umah utama, umah tengah, umah tengen, umah kiwa dan areal umah kelod.

Areal umah utama merupakan area tempat didirikannya bangunan suci untuk kegiatan ritual dan persembahyangan. Area ini terletak di bagian dataran tapak umah dadia yang tinggi. Dalam area suci dalam pekarangan rumah ini terdapat dua bangunan suci utama, yaitu bangunan sanggah kemulan dan bangunan sanggah gede.

“Di Sukawana, Sanggah kemulan merupakan sanggah pekurenan yang sekaligus berfungsi sebagai petunjuk tentang keberadaan anggota keluarga yang sudah menikah dalam pekarangan rumah itu,” jelasnya.

Pada areal umah tengen dan areal umah kiwa merupakan area bangunan hunian bagi para penghuni rumah. Kelompok bangunan ini berlokasi di area tepi tapak pekarangan yang berwujud barisan bangunan bale sakaroras atau bangunan balai bertiang duabelas batang.

Pada bagian umah tengah awalnya difungsikan sebagai lokasi bangunan bale sakanem atau bangunan balai bertiang enam batang. Namun dalam perkembangannya, ada banyak umah dadia yang sudah menghilangkan keberadaan bangunan bale sakanem di areal ini.

Bangunan bale sakanem sebut Wayan Jasa dimanfaatkan sebagai bangunan untuk kegitan persiapan ritual dan upacara atau sebagai tempat meletakkan banten atau sesajen pada beberapa prosesi upacara manusa yadnya, seperti upacara kelahiran, pernikahan, dan kematian.

Sedangkan bangunan rumah tinggal disebut dengan nama Bale Sakaroras. Bangunan ini dihuni oleh satu keluarga yang dipimpin oleh seorang kepala keluarga. Bangunan ini berbentuk persegi panjang dengan jarak antar kolom sekitar dua meter.

Dalam bangunan Bale Sakaroras terdapat tata ruang yang memiliki fungsi tertentu. Semisal Selatan Kaja merupakan kamar suci yang terletak di bagian pekaja atau bagian yang dianggap sebagai arah utara dalam bangunan bale sakaroras.

Selatan kaja ini digunakan sebagai kegiatan ritual tempat menyembah Bhatara Hyang Guru atau para leluhur keluarga. Kamar suci ini dibatasi dinding yang terbuat dari bahan papan kayu yang berpintu kayu.

Selanjutnya Lobangan Gede merupakan kamar tidur orang tua yang terletak di bagian utara bangunan, tepat di samping selatan kaja/kamar suci. Kedua ruang yang saling berbatasan ini memiliki strata fungsi yang berbeda.

Kedua ruang juga dibatasi sekat dinding dari bahan kayu. Lobangan gede berwujud ruang tidur untuk orang tua yang bagian alasnya terbuat dari bahan kayu. Pada bagian di bawah kolongnya digunakan sebagai tempat penyimpanan kayu-kayu api sebagai bahan bakar untuk tungku masak di dapur.

Pada bagian Trojokan atau bagian kamar tidur anak fungsinya sama dengan Lobangan Gede. Pada ruang ini juga terdapat bale tempat tidur (dipan) yang terbuat dari material kayu sebagai tempat tidur untuk anak-anak.

Trojokan ini terdapat di sisi selatan dan utara dipan. Trojokan juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai ruang untuk menerima tamu. “Trojokon juga dimaknai sebagai jajakin yang berarti baru datang.  Artinya, ruang Trojokan dapat dengan mudah terlihat ketika seseorang masuk ke dalam rumah,” imbuhnya.

Ada juga bagian Geladak yang merupakan ruang untuk bergerak para penghuni rumah yang pada saat memasuki ruang dalam bangunan bale sakaroras. Geladak merupakan ruang pertama yang dilalui ketika seseorang memasuki rumah.

“Selatan Kelod sebagai ruangan  yang berada berada di area teben bangunan yang bersebelahan dengan ruang dapur atau paon. Selatan Kelod juga digunakan sebagai tempat untuk penyimpanan harta milik keluarga penghuni rumah,” ungkapnya.  

 

Dapur Berada di Sisi Teben Bangunan

Bagian lain dari rumah Adat Sukawana adalah Paon atau dapur. Bagian ini terletak di bagian teben bangunan dengan dilengkapi dengan tungku api dan rak-rak kayu sebagai tempat meletakkan berbagai peralatan memasak.

Asap yang dihasilkan dari berbagai rangkaian kegiatan memasak di paon ini akan keluar dari celah-celah yang ada di atap dan dinding bangunan.

Asap juga dapat dimanfaatkan untuk mengawetkan berbagai hasil panen maupun pengeringan material-material bangunan yang ada. “Paon atau dapur menjadi tempat penting karena menyangkut kebutuhan akan pangan,” kata Wayan jasa.

Sisi kelod dalam tapak pekarangan umah dadia merupakan area pekarangan yang digunakan sebagai jalur masuk-keluar ke dan dari pekarangan umah dadia.

“Area ini pada jaman dahulu kerap dijadikan sebagai ruang untuk kandang kuda. Hewan kuda peliharaan di Desa Sukawana pada masa lalunya lazim difungsikan sebagai sarana transportasi warga di daerah ini,” tutupnya.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Kintamani #desa adat #bangli #hindu #sukawana #rwa bhineda