BALI EXPRESS - Umat Hindu dibuat bingung dengan beredarnya sebuah pesan di media sosial. Pesan itu menyebut larangan memotong babi pada Penampahan Galungan. Hal ini lantaran Penampahan Galungan yang jatuh pada 1 Agustus 2023 bertepatan dengan Purnama Karo.
Dalam pesan disebutkan, Penampahan Galungan yang bertepatan dengan Purnama disebut dengan Jagal Mangsa, sehingga pantang memotonga babi untuk keperluan upacara. Umat bisa memotong babi pada hari Penyajaan atau sehari sebelum Penampahan Galungan.
Menanggapi hal tersebut, Jro Panca dari Taksu Poleng pun ikut memberi penjelasan. Menurut Jro Panca, ada beberapa lontar yang membahas terkait perayaan Hari Raya Galungan, di antaranya lontar Sundarigama, lontar Aji Swamandala, lontar Jayakasunu, dan lontar Purana Bali Dwipa. Dalam beberapa lontar tersebut dinyatakan bahwa Galungan pertama kali dilaksanakan pada 804 Caka.
Lebih lanjut Jro Panca menyebut, dari keempat lontar tersebut disebutkan, ada beberapa jenis Galungan secara garis besar, yakni Galungan Nadi dan Galungan Naramangsa.
“Galungan Nadi biasanya jatuh pada Purnama. Apalagi jika Galungan jatuh pada saat Purnama Kapat, itu dikatakan sebagai Galungan Nadi, sehingga perayaannya harus lebih besar dari Galungan biasanya dengan Prayascita di Pamerajan,” jelas Jro Panca dikutip dari akun Tiktok Taksu Poleng, Selasa (25/07).
Begitu sebaliknya, Galungan nuju Tilem disebut dengan Galungan Naramangsa. Pada saat ini tidak dianjurkan untuk membuat penjor. Jro Panca menegaskan, dari keempat lontar yang telah dipelajari, tidak ada menyebutkan jika tidak boleh mebat atau memotong babi jika Galungan nemu Purnama.
Sementara itu, Ida Pandita Mpu Yogiswara dari Griya Gede Manik Uma Jati menyebut, rangkaian Galungan kali ini dilakukan seperti biasa sesuai dengan edaran PHDI Bali. Berdasarkan arahan Paruman Pandita dan masukan dari Paruman Walaka PHDI Provinsi Bali, pelaksanaan seluruh rangkaian hari raya Galungan, khususnya Penampahan, tetap dilaksanakan seperti biasa yaitu pada Hari Selasa, tanggal 1 Agustus 2023, atau sesuai dengan dresta masing-masing.
Editor : Nyoman Suarna