Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Perbedaan Penjor Galungan dan Dekorasi

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 25 Juli 2023 | 20:36 WIB
PENJOR : Penjor yang dipasang di depan rumah umat Hindu di Bali saat Galungan, berbeda dengan penjor dekorasi.
PENJOR : Penjor yang dipasang di depan rumah umat Hindu di Bali saat Galungan, berbeda dengan penjor dekorasi.

BALI EXPRESS  –  Setiap perayaan Galungan dan Kuningan, di sepanjang jalan di Bali, khususnya di depan rumah umat Hindu pasti dihiasi dengan penjor. Penjor merupakan sarana upacara yang dibuat menggunakan bambu tinggi melengkung setinggi sekitar 10 meter yang merupakan gambaran gunung tertinggi.

Penjor atau bambu tersebut dihiasi dengan janur dan dedaunan dilengkapi dengan hasil bumi seperti jagung, ketela, padi, jajan bali, serta kain putih atau kuning. Sarana itu merupakan menjadi bagian dari beberapa unsur yang mencirikan penjor  untuk kebutuhan upacara keagamaan Hindu di Bali.

Penjor juga merupakan simbol gunung sebagai stana Tuhan dengan berbagai manifestasinya.  Hal tersebut pula yang membuat setiap gunung di Bali dibangun sebuah pura.

Penjor tidak hanya digunakan dalam rangkaian upacara keagamaan seperti hari raya Galungan, tetapi juga digunakan sebagai sebuah alat dekorasi, seperti saat ada acara pernikahan atau even-even tertentu.

Bedanya, penjor untuk dekorasi menonjolkan unsur seninya, bukan perlengkapannya atau unsur-unsur yang berhubungan dengan simbol-simbol kekuatan Ida Sang Hyang Widi Wasa.

Bahkan penjor di Bali juga terkadang dipasang di rumah ibadah non-Hindu. Hal tersebut hanya untuk dekorasi dan kemeriahan semata, bukan untuk keperluan yadnya.

Sementara penjor yang dibuat saat Galungan dan kegiatan upacara di Bali, melambangkan pertiwi bhuwana agung dan simbol gunung yang memberikan kesejahteraan dan keselamatan. Lambang pertiwi digambarkan sebagai wujud naga Basuki dan Ananta Boga.

Penjor untuk keperluan yadnya dibuat menggunakan alat atau unsur-unsur dari alam semesta, seperti batang bambu, jenis daun (plawa) seperti janur, cemara, pakis aji dan andong. Salain itu juga terdiri dari buah-buahan dan umbi-umbian seperti ketela yang disebut pala bungkah, dan juga buah kelapa, pisang, mentimun atau jambu dan pala wija (buah berbiji) seperti jagung dan padi yang disebut pala gantung.

Penjor juga dilengkapi dengan kue, tebu dan uang kepeng. Semua hasil bumi atau hasil dari alam semesta tersebut juga memberikan arti sebagai rasa bakti dan ucapan terima kasih atas segala kemakmuran yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa pada umat manusia.

Penjor dipasang di sebelah kanan pintu masuk rumah atau tempat suci dengan lengkung penjor mengarah ke jalan. Jika rumah menghadap ke Timur, penjor tersebut dipasang di sebelah selatan.

 Baca Juga: Unud Terima Kunjungan Griffith University Australia

Di depan penjor dipasang sebuah sanggah cucuk setinggi sekitar 1.5 meter sebagai perlambang Ardha Candra, yaitu sebuah sanggah yang bagian bawah segi empat dan atapnya melengkung setengah lingkaran, bentuknya seperti bulan sabit. Sedangkan ujung penjor (ujung bambu) dipasangi sebuah sampian penjor lengkap dengan bunga, porosan, kwangen, sesari 11 uang kepeng.

Editor : Nyoman Suarna
#dekorasi #penjor #galungan