BALI EXPRESS - Soma Pemacekan Agung yang jatuh pada Soma Kliwon Wuku Kuningan sangat dikeramatkan umat Hindu, khususnya di Bali. Sebab, momen ini dianggap sebagai kembalinya Sang Kala Tiga ke asalnya setelah disomya.
Perayaan Soma Pemacekan Agung bertujuan untuk mengembalikan Sang Bhuta Galungan beserta para pengikutnya ke asal masing-masing.
Saat ini umat menyuguhkan Segehan Agung yang memakai penyambleh ayam samalulung. Adapun pelaksanaan dilakukan pada sore hari bertempat di depan pintu masuk pekarangan atau lebuh.
Penekun spiritual Putu Agus Panca Saputra atau Jro Panca, 30, mengatakan, istilah Pemacekan Agung berasal dari kata pacek atau menancapkan sebuah tapa.
Sedangkan kata Agung berarti besar, mulia, kuat atau teguh.
Soma Pemacekan Agung merupakan rangkaian dari Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Pemacekan Agung diyakini sebagai momentum penguatan diri bagi umat Hindu terhadap godaan Sang Kala Tiga, sehingga Sang kala Tiga kembali ke sumbernya setelah disomya.
Dikatakan Jro Panca, secara filosofis Pemacekan Agung mengandung makna untuk mengingatkan manusia agar kemenangan yang telah diraih melalui pertempuran melawan adharma, dijadikan tonggak kebangkitan kesadaran diri, sebagai pengukuhan komitmen untuk selalu menjaga martabat kemanusiaan, dan menghindarkan diri dari momo angkara.
Penjelasan tentang Soma Pemacekan Agung, sebut Jro Panca, bisa ditelisik dalam Lontar Dharma Kahuripan.
Dalam lontar tersebut disebutkan:
“Pamacekan Agung nga, panincepan ikang angga sarira maka sadhanang tapasya ring Sanghyang Dharma.”
Kutipan ini memiliki makna:
Pemacekan Agung, namanya demikian, adalah pemusatan diri dengan sarana tapa kepada Sanghyang Dharma.
“Tapa yang dimaksud adalah proses pengendalian diri. Untuk menuju sang hyang dharma. Jadi pemacekan agung tidak selalu konotasinya negatif,” ujar Jro Panca kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Selain itu, dalam Lontar Sundarigama juga dijelaskan:
“Soma Kliwon, Pemancekan Agung ngaran, masegeh agung ring dengen, mesambleh ayam samalulung, pakenania. Ngunduraken sarwa bhuta kabeh.
Artinya;
Saat Senin Kliwon (wuku Kuningan) adalah Hari Raya Pemacekan Agung. Ketika sore, patut mempersembahkan segehan agung di depan pintu keluar rumah yang dilengkapi sambleh ayam semalulung yang disuguhkan kepada Bhuta Kala beserta pengiringnya agar kembali ke tempatnya.
“Yang dimaksud ayam semalulung itu adalah seekor ayam pitik yang baru turun (menetas) sebelum tujuh hari,” imbuh Jro Panca.
Lalu, mengapa Soma Pemacekan Agung kerap dikeramatkan?
Pria yang rutin mengisi konten Youtube Taksu Poleng menuturkan, Soma Pemacekan Agung erat kaitannya dalam konsep kawisesan. Dimana, saat Pemagpag Pemacekan Agung atau Redite Kuningan (sehari sebelum Soma Pemacekan Agung) kerap dijadikan ajang “unjuk gigi” bagi para leak pemoroan.
“Leak pemoroan itu maksudnya adalah leak yang belajar tanpa sastra. Misalnya, bisa ngeleak karena nguntal, pekakas, penangkep, pengaseng. Ini yang dikonotasikan sebagai Leak Pemoroan. Mereka biasanya jadi binatang,”