BALI EXPRESS - Perayaan hari Raya Kuningan dilaksanakan 10 hari setelah hari Raya Galungan, tepatnya pada Sabtu Kliwon wuku Kuningan.
Umat Hindu akan merayakan Kuningan kembali pada Sabtu (12/08/2023) mendatang.
Perayaan hari Raya Kuningan yang dilaksanakan setiap 210 hari sekali, menyimpan banyak makna lewat simbolisasi, mulai dari Sampian Gantung, Ter, dan Tamiang. Apa makna sarana bebantenan tersebut?
Melalui akun media sosial Tiktoknya, Ida Pedanda Kebayan menyebutkan, perayaan hari Raya Kuningan erat kaitannya dengan pertempuran di dalam diri dan pertempuran di luar diri.
Pertempuran dalam diri adalah pertempuran yang paling hebat, terdasyat, tiada henti dan paling lama. Sehingga untuk memenangkan pertempuran di dalam diri ini diperlukan peralatan yaitu tamiang.
Tamiang atau tameng merupakan piranti yang mencerminkan perlindungan dari semesta dan seluruh mata angin.
“Tameng ini sebagai perisai kita dalam memenangkan pertempuran,” ungkap Ida Pedanda Kebayan dikutip Rabu (9/8).
Selain itu, ada endongan yang memiliki makna sebagai tas perbekalan yang digunakan untuk menaruh perbekelan saat melakukan pertempuran.
Sementara itu ter memiliki makna sebagai panah atau senjata dalam pertempuran.
“Ada juga sampean yang melambangkan penolak bala penghilang energi negative,” ujar Ida.
Sementara nasi kuning sebagai lambang kemakmuran.
Hanya di hari Raya Kuningan saja mempersembahkan nasi kuning, selain itu mempersembahkan nasi putih.
“Setelah kita lengkap dengan perbekalan pertempuran ini, diharapkan kita memenangkan pertempuran di luar dan di dalam diri,” paparnya.
“Setelah itu kita bisa mewujudkan arti mantram Wedha yakni ‘Asatoma Satgamaya Tamasoma Jyotir Gama Ya Mrityorma Amritam Gamaya. Kita dari kegelapan menuju terang, dari ketidakekalan menuju keabadian, dari kematian menuju ke kekalan,” lanjutnya.
Inilah yang diharapkan saat umat Hindu melewati hari raya Kuningan atau Kauningan, yakni eling atau sadar terhadap diri sejati dan terhadap tujuan hidup kita.
Editor : Nyoman Suarna