Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Wajib Dipahami, Ini Enam Rasa Kuliner Bali Menurut Lontar Dharma Caruban

Wibi Leksono • Rabu, 23 Agustus 2023 | 03:51 WIB
lawar
lawar

BALI EXPRESS - Leluhur Bali telah merumuskan berbagai resep serta tata cara mengolah makanan dalam sebuah naskah Lontar Dharma Caruban.

Lontar ini juga memberikan penjelasan mengenai rasa baku dalam mengolah kuliner tradisional Bali. 

Dalam buku Lontar Dharma Caruban terbitan Paramitha Surabaya tahun 2004 menyebut, rasa olahan makanan dibagi menjadi 6 (enam) rasa, disebut dengan sad rasa sesuai dengan macam olahan yang akan disuguhkan sebagai pelengkap upakara umat Hindu Bali.

Disebutkan dari sad rasa tersebut adalah: 

1) Dharma Wiku, adalah olahan yang memiliki “rasa lawana” atau asin, olahan ini berupa urab yang berwarna putih, biasanya disuguhkan disamping untuk upakara juga untuk para Wiku (pendeta) 

2). Bima Krodha, adalah olahan yang dibuat memiliki rasa “ketuka” atau pedas, olahan ini berupa lawar berwarna merah, selain untuk upakara juga bisa untuk di konsumsi bagi semua orang kecuali Wiku. 

3). Jayeng Satru, adalah rasa olahan yang dibuat memiliki rasa “kesaya” atau sepet, dimana olahan ini berupa gegecok/penyon berwarna kuning, disuguhkan untuk bahan upakara dan para Wiku, 

4). Gagar Mayang, adalah rasa olahan yang dibuat memiliki rasa “tikta” atau pahit, biasanya olahan ini berupa gegode berwarna hijau disuguhkan untuk upakara dan para Wiku,

5). Nyunyur Manis, adalah rasa olahan yang dibuat memiliki rasa “madhura” atau manis, dimana olahan ini berupa olahan campuran berwarna brumbun, disuguhkan untuk upakara dan juga bisa bagi semua orang kecuali Sang Wiku, dan 

6). Galang Kangin, adalah rasa olahan yang dibuat dengan memiliki rasa “amla” atau masam (asam), olahan ini berupa penyon, dibuat dari buah belimbing yang diiris tipis dan telah masak, dicampur kalas, berisi daging halus yang telah di masak, disuguhkan untuk upakara dan juga boleh untuk Sang Wiku.

Disebutkan Sad Rasa sejatinya berasal dari kekuatan panca tan matra yang telah bersemayam di alam semesta, yaitu ganda tan matra, sparsa tan matra, sabda tan matra, rupa tan matra, dan rasa tan matra. 

Sad Rasa disebutkan menjadi sumber kekuatan yang dapat menstimulan daya penciptaan jika  berada pada laki-laki menjadilah kekuatan “sukla” (spermatozoa) dan kalau berada pada wanita menjadi kekuatan “swanita” (sel telur), demikian juga pada makhluk lainnya sehingga hal ini memunculkan birahi.

Apabila sukla bertemu dengan swanita maka terjadilah kekuatan penciptaan kehidupan, merupakan kekuatan lingga dan yoni, dan bila keduanya menyatu maka akan melahirkan kekuatan-kekuatan yang baru. 

Boleh dikatakan, rasa olahan dalam lontar Dharma Caruban adalah dharmaning paebatan (ketentuan wajib mengolah makanan) mengandung makna dan sebagai simbol kekuatan purusa (lingga) dan kekuatan prakerti (yoni). Bilamana kedua kekuatan ini menyatu maka akan menciptakan kekuatan pelindung (bhatara).

Sementara itu dalam segi kesehatan bumbu-bumbu  olahan tersebut juga bisa sebagai bahan obat-obatan, yang secara modern diolah menjadi bahan utama dalam bidang kesehatan. Oleh karena itu budaya “ngelawar” atau “mebat/ebat-ebatan” perlu dilestarikan karena mengandung makna dan nilai-nilai tinggi secara universal.

 

Editor : I Putu Suyatra
#Lontar dharma caruban #bali #hindu #kuliner #masakan