Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berikut Mitologi Burung Garuda dalam Hindu, Yuk Cek Penjelasannya

I Putu Mardika • Kamis, 24 Agustus 2023 | 15:00 WIB
Garuda Wisnu Kencana di Desa Unggasan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali sarat makna. .jpg
Garuda Wisnu Kencana di Desa Unggasan, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, Bali sarat makna. .jpg

BALI EXPRESS- Burung garuda tidak hanya menjadi lambang negara Republik Indonesia. Dalam mitologi Hindu, burung garuda menjadi wahana atau kendaraan Dewa Wisnu.

Burung garuda diyakini sebagai simbol pembebasan terhadap perbudakan yang dilakukan Sang Kadru terhadap Dewi Winata (ibu Sang Garuda) seperti diungkapkan dalam Epos Mahabarata pada bagian Adi Parwa.

Simbolisasi burung garuda banyak ditemukan dalam berbagai aristektur di Bali. Mulai dari seni ukir hingga bangunan suci Hindu.

Burung garuda juga ditemukan pada palinggih padmasana sebagai simbol pelepasan keterikatan keduniawian.

Bahkan, burung garuda juga dijadikan patung megah di Bali, yaitu patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang dibangun di Desa Unggasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

GWK ini karya pematung terkenal Nyoman Nuarta dan menjadi ikon baru dalam dunia pariwisata di Bali.

Ketua PHDI Kecamatan Buleleng Nyoman Suardika mengatakan burung garuda disebut sebagai pemimpin burung.

Ini dimaknai bahwa burung garuda memiliki peran sebagai pemimpin burung yang sudah tentu mempunyai sifat-sifat bijaksana, berani, mengabdi dengan penuh keikhlasan pada perintah raja.

“Garuda disebut Sitanana yang berwajah putih, Ratapaksha; bersayap merah, Sweta-rohita; merah dan putih, Suvarnakiya; dengan tubuh keemasan. Karena kewibawaan ini garuda dianggap sebagai burung yang istimewa” jelas Suardika.

Suardika menambahkan, penggambaran burung garuda seperti ini melambangkan kewibawaan yang menempatkan keberanian dalam perjuangan yang berdasarkan hati yang suci, bersih dan tanpa pamrih.

Gaganeswara, burung garuda sebagai penguasa langit, yang mana garuda menggambarkan angkasa yang putih bersih dan dapat menjangkau seluruh angkasa dengan makna memberikan kehidupan yang nyaman bagi umat manusia.

Selanjutnya Kamayus yang hidup dengan senang hati, dan garuda disebut sebagai Wisnu-ratha, kendaraan bagi Dewa Wisnu.

Keagungan burung garuda juga dilukiskan di dalam kitab Ṛg Weda sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dengan berbagai nama atau wujud seperti:

Dalam Rg Weda, bagian 1.146 disebutkan: “Indram mitram warunam agni ahur atho diwyah sa suparno, garutma. Ekam sat wipra bahuda wadanti agni yaman matariswanam ahur

Artinya, Dewa Indra, Mitra, Waruna, Agni, kemudian, Ia juga Garutma, Suparna, sesunggunya Ia Yang Esa. Oleh para alhi menyebutkan dengan banyak nama, seperti Agni, Yama, Matriswanam. Dengan demikian kekuasaan-Nya bagaikan garuda keemasan yang menurunkan hujan menganugerahkan kemakmuran.

Simbol burung garuda sebagai tunggangan Dewa Wisnu juga menggambarkan bahwa Dewa Wisnu sebagai Dewa pemelihara dan memberi kamakmuran.

Maka sangat dibutuhkan adanya hujan yang disimbolkan oleh garuda sebagai penguasa angkasa.

Penggambaran burung garuda juga ditemukan dalam Kakawin Bhāratayuddha disebutkan bahwa kereta Sri Kṛṣṇa dihiasi bendera (dvaja) berwujud raja burung, yakni burung garuda yang seakan-akan berteriak di angkasa diikuti oleh gemuruhnya suara gamelan.

Berdasarkan cerita ini bahwa burung garuda bermakna sebagai burung yang ahli dalam peperangan, yang sebelumnya juga diceritakan pernah mengalahkan Dewa Indra sebagai Dewa Perang.

“Penggambaran keberanian burung garuda dengan teriakannya yang sangat menakutkan untuk memberikan motivasi kepada seluruh pasukan untuk dapat menerkam lawan-lawannya,” paparnya.

Kisah perang ini juga dapat disimak pada saat garuda mengalahkan para Nagantaka, dan Pannaga-nasana sebagai pembunuh para ular.

Di dalam Adiparwa dijumpai bagaimana kisah kelahiran Sang Garuda serta misi yang diembannya untuk membebaskan ibu kandungnya dari perbudakan atau penjajahan yang dialukan oleh Sang Kadru.

Sedangkan di dalam Kakawin Bhomantaka dijelaskan peranan Sang Garuda membantu Sri Kṛṣṇa yang bertempur menghadapi raja rakṣasa yang bernama Bhoma.

Garuda dengan kibasan sayapnya menyebabkan terpental dan lepasnya mahkota miliki sang Bhoma yang berisi permata ajimat bernama Vijayamala ini segera diambil oleh sang Garuda yang menerbangkannya jauh tinggi.

Kemudian Sri Kṛṣṇa berhasil memenggal leher sang Bhoma, kepalanya dengan wajahnya yang menyeringai jatuh kepangkuan ibu pertiwi.

“Inilah yang mengilhami para arisetek tradisional Bali (undagi/sangging) untuk menempatkan ukiran Bhoma di atas pintu Gerbang (ambang) Kori Agung, pintu masuk sebuah pura,” paparnya. (*)

 

 

 

Do-hyun Kim (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
Do-hyun Kim (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
Editor : I Made Mertawan
#dewa wisnu #burung garuda #hindu