BALI EXPRESS- Produksi gula aren menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali.
Bagi umat Hindu di Desa Pedawa, gula aren tidak sebatas diperjualbelikan untuk pemanis makanan. Gula aren juga menjadi sarana penting beberapa jenis banten untuk upacara yadnya umat Hindu di sana.
Proses pembuatan gula aren di Desa Pedawa ini melalui tahapan yang panjang. Secara garis besarnya, ada dua tahapan utama dalam proses pembuatan gula ini. Paling awal hingga paling akhir, yaitu tahap ngarap jaka dan tahap nglebengang.
Tokoh adat Desa Pedawa Wayan Sukrata mengatakan tahapan pembuatan gula aren dimulai dari ngarap jaka yaitu penyadapan di pohon jaka (aren) hingga panen tuak.
Prosesi ini dilakukan oleh laki-laki, sedangkan nglebengang yang merupakan proses pemasakan hingga menjadi gula dilakukan oleh para wanita di setiap rumah tangga.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masyarakat Desa Pedawa sangat memuliakan pohon aren karena berperan penting dalam kelangsungan hidupnya.
Pohon aren yang tumbuh di tanah Pedawa diperlakukan secara sakral. “Hal inilah yang membuat orang-orang Pedawa merasa pantang bahkan hanya untuk sekadar menumpahkan tuak, apalagi sampai membuangnya, sudah barang tentu dianggap kesalahan berat,” sebut Sukrata.
Menjual tuak adalah perbuatan yang pantang dilakukan oleh masyarakat Desa Pedawa. Pasalnya, menjual tuak ini dianggap menistakan benih kehidupan mereka sendiri, dan malahan jauh lebih baik memberi cuma-cuma.
“Memberi jauh lebih baik dari menjual. Karena hal tersebut diyakini lebih berpahala dan merupakan suatu yadnya besar, karena berarti orang tersebut dengan sukarela membagi sari pati kehidupannya kepada orang lain,” imbuh Sukrata.
Ada sebuah upacara yang dilakukan apabila pohon aren tidak lagi menghasilkan air nira (tuak), atau kalaupun menghasilkan, airnya tidak mengucur dengan deras.
Jika ini terjadi maka pemilik tanah tempat pohon tersebut tumbuh akan mengupayakan ritual dengan sarana tipat beke, canang daksina baas pipis, dan banten sodan.
Ritual ini dilakukan secara tersendiri saja oleh pemilik tanah kebun. Dalam ritual ini, dimohonkan kepada para leluhur untuk berkenan memberkati dan membantu secara niskala agar pohon aren yang produksi niranya macet tersebut kembali menghasilkan.
Bunga aren yang disadap adalah bunga jantan. Bunga betina tidak disadap karena hasilnya tidak bagus.
Namun bunga betina menghasilkan buah kolang-kaling atau beluluk dalam bahasa Bali. Bunga aren siap disadap ketika sudah menunjukkan ciri-ciri bunganya sudah mulai mekar dan mengeluarkan serbuk sari yang berwarna kuning, serta beraroma harum.
Untuk menghasilkan gula manis yang berkualitas, setiap prosesi atau tahapan dilaksanakan secermat mungkin.
Ritual dan pantangan yang ada juga wajib dilaksanakan dan dipatuhi, karena secara niskala akan berpengaruh terhadap mutunya.
Proses pengerjaannya menuntut keseimbangan antara sekala dan niskala. Pantangan yang paling diupayakan untuk tidak dilanggar adalah berbicara atau bertegur sapa saat berangkat ngarap jaka.
Selain mengobrol bisa menyita ketepatan waktu yang berdampak pada hilangnya saat yang baik dan tepat dalam melaksanakan prosesi (terutama memotong tandan bunga atau dangul puji, menyadap, dan pemanenan), mengobrol juga dapat merubah suasana hati serta mengacaukan konsentrasi.
Kesucian pikiran dan konsentrasi petani dalam memohon keberlimpahan tuak nira dapat dikacaukan dengan obrolan, terutama obrolan yang sifatnya bergunjing.
Jika pikiran sudah dipenuhi sifat-sifat demikian, maka pohon aren yang akan diiris bisa saja sangat sedikit airnya yang keluar
Secara niskala, diyakini hal ini karena pohon arennya ngambul (enggan menghasilkan). Kemungkinan-kemungkinan inilah yang mendasari adanya pantangan tersebut, sehingga sepanjang perjalanan tidak boleh diajak bicara.
“Orang-orang Pedawa sudah sangat maklum jika melihat orang membawa peralatan ngiris, sudah pasti tidak akan menyapa, apalagi mengajaknya mengobrol. Namun cukup dengan senyum dan anggukan kepala saja sebagai simbol penghormatan,” tutupnya. (*)
Editor : I Made Mertawan