Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Penggunaan Darah dalam Upacara Mecaru Bali: Jejak dalam Teks Kuno dan Sastra

I Putu Mardika • Minggu, 17 September 2023 | 03:00 WIB
MECARU: Darah memiliki peran penting dalam ritual mecaru. Penggunaan darah ini ditulis dalam teks kuno dan sastra.
MECARU: Darah memiliki peran penting dalam ritual mecaru. Penggunaan darah ini ditulis dalam teks kuno dan sastra.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Dalam upacara mecaru di Bali, darah memiliki peran utama sebagai simbol bakti.

Baik dalam upacara tingkatan alit, madya, maupun utama, penggunaan darah binatang memiliki makna mendalam yang tercermin dalam lontar dan teks yang mengikuti ajaran Siwasitik, Tantrik, dan Budhisme.

Setiap kali mecaru dilaksanakan, penggunaan darah sering kali melibatkan ayam sebagai sarana ritual. Bahkan, pemilihan jenis ayam tidak sembarangan, dengan warna seperti Brumbun, Biying, Selem, dan Putih yang memiliki kekhususan.

Tidak hanya darah ayam, tetapi organ dalam ayam juga diolah menjadi berbagai sarana yang digunakan dalam upacara mecaru.

Ada beberapa jenis pelaksanaan Caru di Bali, seperti Caru Ngesanga yang bertujuan untuk menyambut tahun baru Saka, kemudian caru untuk membangun bangunan suci seperti Kahyangan tiga, Padma, dan Meru.

Dosen dari UNHI Denpasar, Darma Putra, menjelaskan, penggunaan darah binatang dalam upacara mecaru didasarkan pada berbagai sumber, baik dalam bentuk sastra maupun prasasti. Contohnya, dalam Prasasti Kehen C disebutkan tentang caru kerbau cemeng, sedangkan sastra Budha Tantra seperti Arjuna Wijaya dan Sutasoma, serta teks lontar Sarwa Caru, juga merujuk pada hal ini.

Dalam kakawin Arjuna Wijaya, ada cerita tentang Rahwana yang menjalani tapa selama 10 ribu tahun. Setiap seribu tahunnya, Rahwana mempersembahkan satu kepalanya kepada Hyang Agni.

"Di Bali, kita juga mengenal praktik yang dilakukan selama 1.000 tahun atau Maligya Merebu Bumi, serta Eka Dasa Rudra setiap 100 tahun," jelasnya.

Sumber lainnya adalah Teks Sutasoma, yang mencatat adanya upacara caru yang mempersembahkan 100 manusia yang dilakukan oleh Purusada kepada Bhatara Kala.

Namun, tentu saja, praktik ini tidak dapat diikuti begitu saja.

Mengapa darah menjadi penting? Darma Putra menjelaskan bahwa di Bali, darah adalah unsur yang menghubungkan tubuh manusia. Ketika darah menghilang, tubuh pun perlahan-lahan lenyap. Di dalam darah terdapat Padma, sebagaimana yang disebutkan dalam Teks Teges Warah Rwa Bhineda.

Dalam Padma ini, dewa-dewi bersemayam, dan inilah yang disebut sebagai Prana atau Bayu. Oleh karena itu, saat manusia meninggal, mereka kehilangan bayu atau menghembuskan nafas terakhir. Ini adalah sumber kehidupan manusia.

Dalam konteks Teges Warah Rwa Bhineda, manusia dapat mempersembahkan intisari dari kehidupan mereka. Oleh karena itu, selama upacara mecaru, manusia juga mempersembahkan minyak, intisari dari bunga, serta sari bumi seperti air sebagai bentuk bakti kepada penguasa.

"Inilah yang terbaik, yaitu kehidupan, atau apa yang kita lakukan untuk alam semesta. Sebagai bukti bakti, kita juga harus merawat intisari dari kehidupan ini," paparnya.

Editor : Nyoman Suarna
#lontar #teks #mecaru #sastra #darah #caru