BALI EXPRES- Pernahkan melihat mobil yang mengantar pengantin Hindu di Bali berisi tebu? Biasanya diikatkan di kiri atau kanan.
Berdasarkan kepercayaan umat Hindu di Bali, tebu di mobil pengantin tersebut tidak sekadar hiasan. Ada maknanya.
Tebu memang menjadi sarana penting dalam upacara pernikahan umat Hindu di Bali.
“Makna tebu dari karakteristik manis dan beruas sampai ujung,” kata Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba menjelaskan makna tebu dalam prosesi pernikahan.
Ida Bagus Manuaba menerangkan, rasa manis tebu dimaknai bahwa pernikahan agar menghasilkan sesuatu yang manis, baik mengawali dengan baik, berlangsung dengan baik dan sampai akhir.
“Manis dalam artian menghasilkan sesuatu yang manis supaya hubungan suami istri juga selalu diiringi dengan hal yang manis,” imbuhnya.
Disinggung soal tebu dipasang di mobil pengantar pengantin, Ida Bagus Manuaba menegaskan bahwa tidak terlepas dari mobil itu sebagai sarana transportasi.
“Kalau dulu dibawa saja, karena perkembangan zaman, sekarang dipasang di kendaraan untuk meminang si mempelai, kalau dulu dibawa,” ungkapnya.
Selain itu, dalam upacara pernikahan, tebu memiliki makna khusus sebagai identitas atau ciri-ciri orang yang melaksanakan upacara tersebut.
Sebatang tebu yang panjangnya sekitar 1,5 meter, dari ujung daun hingga batang, dipasang di sebelah kiri dan kanan mobil.
Biasanya, mobil pengantin berisi tebu ketika ke rumah mempelai wanita.
Mobil yang berisi tebu menunjukkan bahwa itu adalah rombongan pengantin.
Selain itu, tebu juga memiliki makna simbolis sebagai representasi kehidupan baru yang akan dijalani oleh pasangan pengantin.
Mereka diharapkan dapat meniru sifat-sifat tebu, yaitu tumbuh dan berkembang dengan mudah, memiliki cadangan makanan sebagai sumber kehidupan, kesejahteraan, dan kebahagiaan.
Selain itu, tebu juga mengingatkan agar pengantin menjauhi sifat-sifat negatif seperti peribahasa habis manis sepah dibuang.
Tebu juga berfungsi sebagai pelindung dari roh jahat yang mungkin mengganggu jalannya upacara karena pasangan yang belum diupacarai dianggap rentan terhadap gangguan roh jahat.
Beberapa varietas tebu yang biasa digunakan dalam upacara ini termasuk tebu ratu, tebu malem, tebu kuning, tebu hitam, tebu tiying, dan tebu swat. (*)
Editor : I Made Mertawan