Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pentingnya Keturunan Suputra dalam Hindu: Sebuah Pembelajaran dari Kisah Sang Jaratkaru

I Putu Mardika • Selasa, 26 September 2023 | 04:00 WIB
KETURUNAN: Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, M.Pd mengatakan memiliki keturunan sangat penting bagi umat Hindu, sesuai kisah sang Jaratkaru.
KETURUNAN: Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, M.Pd mengatakan memiliki keturunan sangat penting bagi umat Hindu, sesuai kisah sang Jaratkaru.

BALI EXPRESS - Memiliki sentana atau keturunan menjadi hal yang penting bagi umat Hindu yang telah memasuki masa grahasta atau masa membina rumah tangga.

Pentingnya memiliki anak erat kaitan dengan tujuan dari upacara perkawinan yakni melahirkan anak yang Suputra sebagai penerus keluarga.

Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga, M.Pd mengatakan, dalam Pustaka Hindu, memiliki anak menjadi swadharma bagi pasangan suami istri yang telah menjalani masa grahasta.

Baca Juga: Prabowo Subianto Dinilai Mampu Membuat Indonesia Menjadi Negara Super Power

Seperti disebutkan dalam Kitab Manavadharmasastra IX. 96 bahwa  “Untuk menjadi ibu, wanita itu diciptakan. Dan untuk menjadi ayah, laki-laki itu diciptakan. Upacara keagamaan, karena itu, ditetapkan dalam Veda untuk dilakukan oleh suami bersama dengan istrinya.”

Dikatakan Ariyoga, mengacu pada sloka dalam Manavadharmasastra tersebut, maka memiliki anak merupakan swadharma dari pasangan suami istri.

“Kata anak dalam Bahasa Sanskerta adalah putra. Kata putra pada mulanya berarti kecil atau yang disayang, kemudian kata ini dipakai menjelaskan mengapa pentingnya seorang anak lahir dalam keluarga,” jelasnya.

Selanjutnya dalam Kitab Manavadharmasastra IX.138 menyatakan bahwa “Oleh karena seorang anak yang akan menyeberangkan orang tuanya dari neraka yang disebut Put (neraka lantaran tidak memiliki keturunan). Oleh karena itu, ia disebut putra dengan kelahirannya sendiri.”

Putra yang mulia disebut putra suputra. Kelahiran putra suputra ini merupakan tujuan ideal dari setiap perkawinan.

Kata lain untuk sebutan putra yakni sunu, atmaja, atmasambhava, nandana, kumara, dan samtana.

“Kata terakhir ini di Bali menjadi kata “sentana” yang berarti keturunan,” paparnya.

Memiliki keturunan yang suputra dapat menyelamat leluhur yang telah berada di alam niskala.

Pada kitab Adi Parva Bab V diceritakan tentang kisah Sang Jaratkaru yang harus menikah dan memiliki keturunan demi menyelamatkan orang tuanya yang telah meninggal.

Disebutlah seorang Brahmana bernama Sang Jaratkaru. Diberi nama Sang Jaratkaru karena memiliki sifat berbudi belas kasihan, selalu memberi pertolongan kepada orang yang sedang takut dan memiliki watak pengelebur.

Keseharian sang brahmana adalah mengambil biji-bijian yang tersebar dimanapun dan dipungut serta dicucinya. Sudah banyak ditanak dan dipergunakan sebagai korban kepada para dewa, dan pula dihidangkan kepada para tamu.

Diceritakan, pada saat Sang Jaratkaru mulai bertapa, sesudah beliau tamat akan segala mantra, beliau diperbolehkan memasuki segala tempat.

Sampailah beliau pada tempat-tempat yang dikehendakinya dan berziarah.

Makin jauhlah perginya, sampai pada suatu tempat yang disebut “Ayatanasthana”, yaitu tempat antara sorga dan neraka, tempat dimana leluhurnya menunggu.

Leluhurnya kedapatan tergantung di sebuah bambu petung. Mukanya telungkup, kakinya diikat.

Sedangkan di bawahnya sebuah jurang dalam, jalan ke neraka. Orang akan tepat masuk kedalamnya kalau bambu bergantung tersebut putus, karena setiap hari bambu tersebut dimakan oleh tikus.

Melihat hal tersebut, berlinang Sang Jaratkaru, menyebabkan muncul belas kasihan dan seraya berkata: “Apakah sebabnya tuanku sekalian bergantung di bambu yang hampir putus oleh gigitan tikus, sedangkan di bawahnya jurang yang tiada terduga dalamnya?”

Maka menjawablah leluhurnya. Hatinya menjadi segar bagaikan disiram dengan amerta, “Saya ini engkau tanyai, saya akan katakan keadaan saya semua, karena keturunan kami putus,”

“Itulah sebabnya saya pisah dari dunia leluhur, bergantungan di buluh petung ini, seakan-akan sudah masuk neraka, nyatanya sebatang buluh saja. Ada seorang keturunan saya yang bernama Jaratkaru.”

“Ia moksa (pergi) untuk ingin melepaskan ikatan kesengsaraan orang, ia tiada beristri, karena menjadi brahmacari sejak masih kecil. Itulah yang menyebabkan saya di buluh ini, karena brata samadhinya kepada asrama sang pertapa.”

Dijawablah oleh Jaratkaru, “Saya inilah yang bernama Sang Jaratkaru, seorang keturunanmu yang gemar bertapa. Bertekad menjadi brahmacari, kiranya tiada sekarang juga penderitaanmu berakhir sebab selalu sempurnalah tapa yang berlangsung. Adapun jalan untuk tuan-tuan pergi ke surga. Janganlah tuan ragu dan takut,”

“Hamba akan berhenti menjalankan brahmacari. Hamba akan menikah dan mempunyai anak. Adapun yang saya kehendaki istri yang namanya sama dengan saya, supaya tidak bertentangan dalam perkawinan saya. Kalau saya sudah beranak akan menjadi brahmana lagi, persenanglah hatimu”.

Diceritakan kemudian sang Jaratkaru pergi mencari seorang istri yang memiliki nama yang sama dengan dirinya.

Ia pergi kesegala penjuru dan sampailan beliau di tengah hutan sunyi, menangislah sang Jaratkaru dan mengeluh kepada dewa dan seraya berkata:

“Hai segala makhluk, termasuk yang tidak bergerak, saya ini Jaratkaru, seorang brahmana ingin beristri, berilah saya istri yang senama dengan saya, biarlah saya mempunyai anak supaya roh leluhur saya bisa pulang ke sorga,”

Hal tersebut di dengar oleh naga basuki dan memberikan sang Jaratkaru adiknya yang bernama “Nagini” yang kemudian dinamai Jaratkaru.

Diceritakan Sang Jaratkaru melangsungkan perkawinannya dengan Nagini Jaratkaru dan kemudian hidup bersama.

Tiada lama terlihatlah tanda-tanda bahwa istrinya telah hamil.

Berselang beberapa lama akhirnya lahirlah seorang bayi laki-laki, sempurna keadaan badannya yang diberi nama Sang Astika, yang akan menyelamatkan Naga Tatsaka dari korban ular yang dilakukan oleh Maharaja Janamejaya.

Setelah sang putra lahir, maka ketika itulah roh para leluhur sang Jaratkaru yang bergantungan di buluh bambu, lepas dan melayang kembali ke sorga

Ariyoga menambahkan, berdasarkan kutipan kisah sang Jaratkaru pada kitab Adi Parwa menunjukkan bahwa dalam agama Hindu, memiliki keturunan merupakan suatu hal yang wajib diupayakan oleh setiap pasangan suami istri.

“Tujuannya untuk menyelamatkan arwah para leluhur dari siksaan akhirat sehingga dapat menuju ke alam surga,” imbuhnya.

Heru Suseno secara resmi dilantik dan diambil sumpahnya oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah.
Heru Suseno secara resmi dilantik dan diambil sumpahnya oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah.
Editor : Nyoman Suarna
#bali #keturunan #kisah #jaratkaru #hindu #suputra