Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Sanggah Pakamulan Warisan Mpu Kuturan Bagi Umat Hindu di Bali

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 29 September 2023 | 02:09 WIB
MERAJAN : Merajan merupakan tempat suci umat Hindu yang ada di masing-masing rumah. Soal pembangunan merajan, ini lontar yang menjadi acuannya.
MERAJAN : Merajan merupakan tempat suci umat Hindu yang ada di masing-masing rumah. Soal pembangunan merajan, ini lontar yang menjadi acuannya.

CANGGU, BALI EXPRESS - Masyarakat Hindu Bali punya konsep sederhana dalam membangun rumah, mulai dari memilih pekarangan dan melakukan pembagian areal pekarangan. Warisan konsep dari Mpu Kuturan ini, yakni sistem utama (utama), madya (medium) dan nista (sederhana).

Dari ketiga konsep warisan Mpu Kuturan tersebut, ada istilah hulu, tengah, dan teben (tingkat terbawah).

Oleh karena itu, selain membagi karang menjadi empat bagian seperti yang dipaparkan Pinandita Drs. I Ketut Pasek Swastika, ada juga yang membagi areal pekarangan menjadi sembilan, dari utamaning utama hingga nistaning nista.

Namun, oleh Pinandita Pasek, hal itu disederhanakan menjadi empat, yakni Sri, Aji, Kala, dan Rudra.

Oleh karena itu, dalam pembangunan, masyarakat Hindu di Bali biasanya membuat konsep hulu terlebih dahulu, yakni merajan atau mrajan.

Sebelum membuat mrajan, pada awalnya masyarakat membuat sanggah sederhana yang dinamakan Turus Lumbung. Sanggah Turus Lumbung adalah sanggah yang terbuat dari pohon atau taru dapdap.

Pohon dapdap disebut dengan “taru sakti” oleh masyarakat Bali, karena kaya akan khasiat dan mudah tumbuh di berbagai kondisi tanah.

Turus Lumbung bentuknya sangat sederhana, yakni tiangnya menggunakan kayu dapdap. Tiang tersebut kemudian disambungkan menggunakan kayu atau bambu, sehingga bisa digunakan untuk meletakkan banten atau sesajen.

Dalam beberapa sumber dinyatakan, Turus Lumbung mengandung arti kias “melindungi dan menghidupi pemujanya”.

Turus yang dimaksud adalah pohon dapdap dan lumbungnya adalah tempat meletakkan sesajen.

Dengan demikian, karena dianggap sebagai “taru sakti”, dapdap dikatakan bersifat melindungi, sedangkan lumbung yang diartikan sebagai tempat menyimpan padi merupakan simbol berkah.

Mengenai batas usia penggunaan Turus Lumbung tersebut belum ada sumber yang pasti. Oleh karena itu, berbagai versi pendapat pun timbul.

Ada yang mengatakan enam bulan, tiga tahun, atau bahkan sampai dengan si empunya rumah mampu mapan secara ekonomi, untuk selanjutnya membangun mrajan permanen.

Hal itu tentunya wajar saja, mengingat masyarakat Hindu yang religius senantiasa mengutamakan Tuhan dan leluhurnya, berkaitan dengan konsep hulu, tengah, dan teben tadi.

Namun, sebelumnya saat ngaruwak, pemilik karang harus membuat Sanggah Cucuk/Surya terlebih dahulu sebagai penghantar doa dan harapan agar pembangunan berjalan lancar.

“Oleh karena itu, saat kubu (pondok) telah bisa dibangun rumah, maka Turus Lumbung dibangun menjadi mrajan,” ungkap Pinandita Pasek Swastika kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (23/11/2016).

Namun, dalam era pembangunan modern ini, masyarakat memiliki pilihan yang harus mereka pertimbangkan, yaitu apakah mereka akan memprioritaskan mendirikan mrajan terlebih dahulu atau rumah terlebih dahulu.

Jika kita mengacu pada prinsip etika, seharusnya mrajan sebagai tempat penyembahan utama harus didirikan terlebih dahulu.

Namun, pada kenyataannya, ketika ada rencana membangun rumah bertingkat, biasanya rumah harus dibangun lebih dulu.

Oleh karena itu, masyarakat yang bersangkutan biasanya lebih memahami situasi ini dengan baik. Yang paling penting, keduanya harus dapat berjalan beriringan.

Pembahasan ini dimulai dengan penekanan pada pentingnya merajan dalam budaya Hindu, khususnya di Bali, seperti yang dinyatakan dalam berbagai karya sastra.

Merajan adalah tempat penting bagi penyembahan Tuhan, Dewa-dewa, atau roh leluhur (pitara). Beberapa lontar, seperti Purwa Bhumi Kamulan, Usana Dewa, Gong Besi, dan lainnya, merinci pentingnya penstanaan roh leluhur yang berkaitan dengan eksistensi merajan.

Selanjutnya, kita akan membahas jenis-jenis palinggih yang ada dalam merajan.

Dalam buku yang berjudul "Riwayat Mrajan di Bali" karya Ktut Soebandi, dinyatakan bahwa konsep merajan dapat ditemukan dalam Lontar Ithi Prakerthi, yang konon berlandaskan pada konsep Mpu Kuturan.

Lontar tersebut menjelaskan konsep Tri Lingga, yang terdiri dari Desa, Puseh, dan Dalem.

Ada empat jenis merajan beserta jumlah palinggihnya.

Yang pertama adalah Tri Lingga, yang terdiri dari Kamulan, Taksu, dan Tugu (Panunggun karang).

Merajan ini mewakili satu rumah tangga. Ada juga yang menyebutnya sebagai paibon atau sanggah pakomelan, meskipun sebenarnya istilah yang lebih tepat adalah sanggah pakamulan.

Kemudian, yang kedua adalah konsep merajan Panca Lingga dengan lima palinggih, yaitu Kamulan, Taksu, Tugu, Pelik Sari, dan Gedong.

Merajan ini mewakili beberapa rumah tangga yang masih memiliki ikatan purusha. Istilah lainnya untuk mrajan ini adalah Panti.

Ketiga, ada Sapta Lingga, yang terdiri dari tujuh palinggih, yaitu Kamulan, Taksu, Tugu, Pelik Sari, Gedong, Catu, dan Manjangan Salwang.

Merajan ini disebut dadya dan diwakili oleh panyungsung beberapa Panti dan Paibon.

Terakhir, ada Ekadasa Papeking Dewata, dengan sebelas palinggih, yaitu Kamulan, Taksu, Tugu, Pelik Sari, Gedong, Catu, Manjangan Salwang, Pasarem, Limas Sari, Lirah, dan Padma, yang disebut dengan Dadya Agung.

Panyungsungnya adalah pemilik Dadya, Panti, dan Paibon.

Selain palinggih-palinggih tersebut, biasanya ada pula palinggih pasimpangan atau panyawangan untuk Ida Bhatara tertentu, seperti Ida Bhatara Gunung Agung, Batur, Beratan, Batukaru, Lempuyang, dan lainnya.

Pendirian pasimpangan ini dilakukan karena adanya kendala geografis dan jarak di Bali pada masa lalu, yang mengharuskan masyarakat menciptakan cara untuk tetap melakukan upacara pemujaan dengan lancar.

Dalam konteks merajan untuk satu rumah tangga, yang dikenal sebagai sanggah pakamulan, terdapat tiga palinggih utama: Kamulan, Taksu, dan Tugu.

Kamulan menggambarkan asal-usul dan terdiri dari rong tiga, yang mencerminkan Tri Murti, yaitu Wisnu di Utara, Brahma di Selatan, dan Siwa di tengah.

Palinggih Kamulan menghadap ke Timur.

Selanjutnya, Taksu adalah tempat untuk memohon kepada dewa/dewi mengenai peningkatan kualitas diri, dan palinggih Taksu menghadap ke Utara ke Selatan.

Tugu atau panunggun karang adalah tempat untuk Ida Bhatara Dukuh Sakti dan berfungsi sebagai penguasa perbatasan pekarangan, dengan letaknya di pojok pekarangan di arah barat laut yang menghadap ke Selatan.

Editor : I Putu Suyatra
#bali #merajan #hindu