Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik Prosesi Kematian di Sembiran, Ada Upacara Khusus jika Terkena Penyakit Beseh

I Putu Mardika • Senin, 2 Oktober 2023 | 16:48 WIB
TRADISI: Kelian Adat Sembiran, Nengah Arijaya mengatakan Desa Sembiran memiliki tradisi unik untuk upacara kematian. Gelar upacara khusus jika yang meninggal terkena penyakit beseh.
TRADISI: Kelian Adat Sembiran, Nengah Arijaya mengatakan Desa Sembiran memiliki tradisi unik untuk upacara kematian. Gelar upacara khusus jika yang meninggal terkena penyakit beseh.

BALI EXPRESS - Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng memiliki prosesi kematian yang cukup unik.

Tradisi unik ini merupakan warisan dari turun temurun dari masyarakat Sembiran sebagai Desa Bali Aga.

Kelian Adat Sembiran, Nengah Arijaya mengatakan, upacara kematian di Sembiran melalui sejumlah tahapan.

Pada hari pertama kematian dilaksanakan upacara kecil, yaitu mayat dibungkus dengan tikar dan dilapisi kain/galar/tikar. Jumlah bilah tikar tertentu, biasanya 11 bilah/welat.

Setelah dimandikan jenazah dibungkus dengan tikar lalu dibawa ke tempat penguburan, diusung dengan menggunakan bambu.

Sampai di area pekuburan, jenazah dimasukkan ke dalam kubur tanpa mengenakan pakaian.

Jenazah lelaki diletakkan dalam posisi tengkurap, sedangkan jenazah wanita diletakkan dalam posisi telentang dan dimasukkan dalam tanah yang digali sedalam 1-1.5 meter dengan menggunakan alas kepeng (uang lubang) sebanyak 11dan di atasnya digelar daun bambu.

Pada hari keempat sejak meninggal, keluarga mengadakan upacara di Pura Mpu.

Pada hari ke-11 (sebelas), diadakan upacara Nyolasin atau Melas Atma berupa pemelas atma, dengan mengadakan sesaji di rumah atau pinggiran jalan.

“Pada hari ke-42 setelah kematian diadakan upacara Ngelumbah dengan menyembelih babi di rumah untuk sesaji yang diserahkan ke Pura Prajapati,” jelasnya.

“Kemudian pada hari ke-84 (42 hari lagi setelah hari ke 42) diadakan upacara Ngundang atau Mebersih di rumah,” lanjutnya.

Prosesi ini disertai persembahan babi di kamar suci atau tempat pemujaan kepada dewa atau leluhur.

Berkaitan dengan peristiwa kematian, ada satu hal yang perlu diketahui tentang sebel.

“Kematian bagi masyarakat Desa Sembiran merupakan peristiwa yang menimbulkan sebel kematian. Apabila terjadi kematian, maka pelaksanaan odalan akan dibatalkan. Pada zaman dulu, apabila ada kematian, maka akan menggagalkan odalan.

Namun saat ini, apabila terjadi kematian, maka yang dianggap sebel adalah dadia. Jadi odalan tetap terselenggara di desa.

Hanya keluarga yang meninggal bersama dengan kerabatnya yang terhimpun dalam dadia, tidak boleh mengikuti odalan.

Pada zaman dahulu, apabila ada kematian yang dikarenakan penyakit (sakit perut dan membengkak) maka disebut mati beseh.

Sehubungan dengan itu, odalan dibatalkan dan harus mengadakan upacara lain yaitu upacara melis.

“Apabila desa yang membuatkan upacaranya, maka disebut ngarusan yang berarti ikut menyucikan. Kalau di Bali tengah disebut pewintenan. Intinya adalah pelukatan (pembersihan),” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#sembiran #kematian #bali #unik #beseh #hindu #tradisi